Showing posts with label Discovery Indonesia. Show all posts
Showing posts with label Discovery Indonesia. Show all posts

01 July 2014

[EnjoyJakarta] Berwisata Sembari Peduli Lingkungan di Pulau Pramuka



Pada tanggal 4 Juni tahun lalu, di pagi hari sebelum matahari menampakan wajahnya kami bergegas untuk pergi berwisata selepas ujian akhir semester berakhir di kampus Universitas Indonesia. Wisata yang kita tuju adalah pulau yang berada di gugusan Kepulauan Seribu yaitu Pulau Pramuka. Konon katanya dinamakan Pulau Pramuka karena dulunya sering digunakan sebagai tempat camping kegiatan pramuka. Ada sekitar 50 orang yang ikut berpartisipasi dalam wisata ke Pulau Pramuka ini, tidak hanya mahasiswa UI siapapun dapat ikut berwisata bersama kami. Namun, dalam wisata ini tidak sebatas hanya bersenang-senang tapi kami juga menekankan pada unsur kepedulian terhadap lingkungan. Sebelumnya saya dan teman-teman membentuk sebuah kepanitian kecil dan membuat poster untuk ajakan berwisata sembari peduli lingkungan setelah rangkaian acara ujian akhir semester berakhir. Kegiatan berwisata ini sebenarnya juga untuk ikut merayakan Hari Lingkungan Hidup Sedunia yang jatuh setiap tanggal 5 Juni. Saya sendiri pada waktu itu bertindak sebagai Ketua TKP yaitu orang yang bertanggung jawab atas Transportasi selama perjalanan ke Pulau Pramuka, menjaga Keamanan selama kegiatan wisata, dan mempersiapkan segala Perlengkapan yang dibutuhkan. 

02 January 2014

Cara Lolos The Jakarta Sister City Program

       Sekilas info aja, Jakarta Sister City merupakan program pemberdayaan pemuda Jakarta untuk mendapatkan exposure ke luar negeri. Diawali pada akhir tahun 2013, merupakan kali pertamanya program Jakarta Sister City dilaksanakan. 

Di tahun 2013, program ini dibuka untuk 2 negara yaitu Korea Selatan dan China. Untuk seleksinya sendiri tahun 2013 dilakukan secara terpusat di GOR remaja Jakarta Timur. Cukup banyak orang yang mengikuti seleksi, dan nantinya dilih 8 pasang pemuda dan pemudi untuk mewakili masing-masing negara.

Di negara tujuan, pemuda dan pemudi ini membawa 3 misi utama yaitu entrepreneurship, leadership & nasionalisme dan sosial budaya. Sehingga output dari program ini adalah kita harus membuat paper yang nantinya dipresentasikan  ke Dinas Pemuda selepas kembali ke Jakarta.

Tahun 2014 nanti, direncakan program Jakarta Sister City ini akan dibuka untuk 4 negara yaitu Korea Selatan, China, Kanada, dan Jerman. Jadi gimana tertarik kah?

01 June 2013

[EnjoyJakarta] Berwisata Sembari Peduli Lingkungan di Pulau Pramuka



Pada tanggal 4 Juni tahun lalu, di pagi hari sebelum matahari menampakan wajahnya kami bergegas untuk pergi berwisata selepas ujian akhir semester berakhir di kampus Universitas Indonesia. Wisata yang kita tuju adalah pulau yang berada di gugusan Kepulauan Seribu yaitu Pulau Pramuka. Konon katanya dinamakan Pulau Pramuka karena dulunya sering digunakan sebagai tempat camping kegiatan pramuka. Ada sekitar 50 orang yang ikut berpartisipasi dalam wisata ke Pulau Pramuka ini, tidak hanya mahasiswa UI siapapun dapat ikut berwisata bersama kami. Namun, dalam wisata ini tidak sebatas hanya bersenang-senang tapi kami juga menekankan pada unsur kepedulian terhadap lingkungan. Sebelumnya saya dan teman-teman membentuk sebuah kepanitian kecil dan membuat poster untuk ajakan berwisata sembari peduli lingkungan setelah rangkaian acara ujian akhir semester berakhir. Kegiatan berwisata ini sebenarnya juga untuk ikut merayakan Hari Lingkungan Hidup Sedunia yang jatuh setiap tanggal 5 Juni. Saya sendiri pada waktu itu bertindak sebagai Ketua TKP yaitu orang yang bertanggung jawab atas Transportasi selama perjalanan ke Pulau Pramuka, menjaga Keamanan selama kegiatan wisata, dan mempersiapkan segala Perlengkapan yang dibutuhkan. 

Tempat penginapan ketika di Pulau Pramuka
Sebagai sebuah pulau, banyak hal yang dapat wisatawan lakukan di sini seperti snorkeling, diving, kayaking, memancing, melihat penangkaran penyu sisik (bahasa latin : Eretmochelys imbricata), penangkaran kupu-kupu atau sekedar menikmati matahari terbit. Kami menyebrang ke Pulau Pramuka dengan menggunakan kapal yang berlabuh di Muara Angke, setelah sekitar satu jam lebih tidak terasa kami pun tiba di Pulau Pramuka. Kami kemudian mencari tempat penginapan yang sebelumnya telah dipesan yaitu di Wisma Shafir, sebuah tempat penginapan sederhana tapi nyaman untuk ditinggali. Setiba di Pulau Pramuka, sebelum menikmati keindahan Pulau Pramuka, kami pun berdiskusi terlebih dahulu kepada semua peserta untuk tidak melakukan hal-hal yang merusak lingkungan, seperti membuang sampah sembarangan terutama sampah plastik, mengganggu ekosistem yang ada di Pulau Pramuka dll. O iya kami pun mewajibkan peserta yang ikut untuk mengenakan baju putih selama kegiatan. Setelah diskusi selesai kami pun bergegas mengunjungi tempat penangkaran penyu sisik yang ada di Pulau Pramuka. Disana kami menemukan mahluk hidup kecil dan mungil yang sayangnya populasinya semakin menipis.
Tempat penangkaran penyu sisik 
Setelah mengunjungi penangkaran penyu sisik, kami pun berkesempatan untuk ikut serta melepas tukik alias bayi-bayi penyu ke lautan lepas. Seruuuuu pokoknya melihat tukik-tukik ini mulai menghentakan ke empat kakinya untuk berenang di lautan lepas. Semoga tukik-tukik yang kami lepaskan ini bisa hidup langgeng untuk mempertahankan spesiesnya supaya kelak tidak punah.
kesempatan untuk melepaskan penyu

Selain melepaskan para tukik ke lautan lepas, kami pun berkesempatan untuk turut serta dalam menanam terumbu karang di sekitar pantai Pulau Pramuka, tahukah anda bahwa terumbu karang merupakan struktur tertua di dunia dan butuh berjuta tahun untuk sampai ke kondisi terumbu karang saat ini. Oleh karena itu jangan merusak terumbu karang ya guys jika kalian berwisata ke daerah yang banyak terumbu karangnya.
usaha pelestarian terumbu karang
Setelah berpuas-puas ria dengan tukik dan terumbu karang yang ada di Pulau Pramuka, sisa hari pertama kemudian kami habiskan dengan melakukan snorkeling. Seruuuuu banget, karena ini merupakan kali pertama saya dan sebagian teman-teman melakukan snorkeling. 
snorkeling bersama 
Sedangkan malam harinya kita isi dengan sesi sharing, permainan dan barbeque sambil diiringi deburan ombak di sekitar Pulau Pramuka, keren pokoknya bisa melihat lampu kelap-kelip yang berada jauh di pulau-pulau lain yang berada di kawasan Kepulauan Seribu. Jam 11 malam setelah makan bersama kami pun lekas pergi beristirahat untuk menyambut esok hari untuk menyanbut hari lingkungan hidup yang bertepatan jatuh pada tanggal 5 Juni. 

Hari kedua, di pagi hari kami pun menikmati indahnya matahari terbit di Pulau Pramuka. Setelah itu, mengingat hari itu adalah hari lingkungan hidup dan banyaknya sampah bertebaran di sebagian besar pesisir pantai di Pulau Pramuka, kami pun serentak untuk mengadakan sesi bersih-bersih pantai di Pulau Pramuka dengan cara memunguti sampah-sampah yang bertebaran terutama sampah plastik. 
sesi bersih-bersih pantai di P. Pramuka
bersih-bersih di pantai P. Pramuka


Setelah acara bersih-bersih pantai, kami pun lekas ke pananaman bakau untuk melihat pelestarian pohon ini. Tahukah anda bahwa vegetasi tanaman bakau merupakan pelindung jika terjadi suatu bencana, selain itu disekitar tanaman bakau juga merupakan tempat hidup hewan-hewan langka. Oleh karena itu, walaupun tujuan kita berwisata tidak lupa kita mengunjungi tempat pelestarian bakau. kami pun berkesempatan untuk menanamn pohon bakau di sekitar pantai di kawasan Pulau Pramuka. Seruuu bener-bener [EnjoyJakarta]
Penanaman bakau di Pulau Pramuka
Sebelum kami pulang pada jam 2 siang, selepas dhuhur kami pun membuat poster-poster sederhana untuk memperingati hari Lingkungan Hidup Sedunia dan kemudian mengeliling pinggiran Pulau Pramuka sambil bernyanyi dan sedikit berpidato untuk membangun kesadaran wisatawan dan penduduk yang ada di sekitar Pulau Pramuka untuk tetap peduli terhadap lingkungan dan menjaga ekosistem seutuh mungkin walaupun sedang dalam keadaan berwisata.
berkeliling pulau dalam rangka peringatan hari lingkungan hidup
Iniliah cerita saya menikmati ujung utara Jakarta di Pulau Pramuka sembari peduli terhadap lingkungan setelah penat menjalani ujian akhir semester di kampus. Really EnjoyJakarta guyssss.....

02 March 2013

MERAWAT TRADISI DAN KHAZANAH DENGAN "LAM YAHTALIM"


Ketika Bambang pamungkas menjebol gawang Malaysia, seisi Stadion Senayan sontak bergemuruh, mereka bersukacita. Begitu pun sesaat sebelum pertandingan dimulai, bendera merah putih dieret, semua orang seperti dikomando, bersama  terlarut dalam emosi, menyanyikan lagu kebangsaan. Apa yang membuat mereka tertawa bersama ketika mengecap kemenangan,  menangis bersama, dan kompak cucurkan air mata  di lain kesempatan saat tim nasionalnya kalah?Apa artinya kulit sapi yang dijahit berbentuk bundar, dikejar kesana kemari, diperebutkan oleh 22 pemain, saat lewati garis gawang, orang-orang meluapkan emosinya dan berekspresi.

16 January 2013

Orang Sunda, Perantau yang Terlupakan


“Orang Sunda: Perantau yang Terlupakan“ adalah sebuah disertasi yang disusun oleh Kang Teten Ali Mulku Engku, PhD candidate Universitas Nasional Malaysia. Pria asal Tasikmalaya Jawa Barat tersebut meneliti mengenai fenomena orang Sunda, sebuah suku bangsa Indonesia asal Jawa Barat, yang dalam konteks migrasi, cenderung dipandang sebagai orang yang hanya  “pemain kandang“, sementara orang Minangkabau terkenal suka menjelajah, orang Batak terkenal kuat dan ahli dalam berbagai bidang serta orang Jawa terkenal dingin tangan dalam hal pertanian.

Persepsi bagi orang Sunda yang terbentuk di masyarakat tersebut ternyata tidak sesuai dengan kenyataan yang menunjukan bahwa saat ini terdapat 10 juta orang Sunda yang menjadi imigran di luar negeri baik sebagai pekerja profesional dan nonprofesional. Penelitian yang akan dipresentasikan dalam  konferensi mengenai migrasi etnis di Universitas J.W. Goethe Frankfurt pada akhir Maret ini sangat menarik untuk dibicarakan, baik itu untuk orang Sunda maupun yang bukan orang Sunda. KangTeten AME akan menyampaikan paparan mengenai penelitiannya dan tentu membuka ruang diskusi serta obrolan bersama dalam Pojok Ngabako.

Ngabako merupakan istilah orang Sunda untuk menggambarkan aktifitas ngobrol santai, berdiskusi atau sekedar curhat mengenai suatu  hal. Pojok Ngabako adalah salah satu kegiatan Paguyuban Baraya Budaya Sunda (PBBS) yang ingin membahas berbagai hal yang dilatarbelakangin kerinduan terhadap suasana ngabako yang biasanya berlangsung akrab dan kekeluargaan.  Definisi kata ngabako dalam bahasa Sunda sebenarnya adalah aktifitas menghisap tembakau (bako=tembakau, nga-= awalan yang membentuk kata kerja). Istilah ngabako kemudian juga dikenal untuk menggambarkan kegiatan ngobrol santai  (kemungkinan) karena biasanya orang yang menghisap tembakau atau rokok melakukannya sambil ngobrol santai ditemani teh atau kopi dan gorengan. Pojok Ngabako diharapkan tidak hanya menjadi media diskusi namun juga ajang silaturahmi dan berbagi informasi bagi orang Sunda dan mereka yang tertarik pada Kebudayaan Sunda di Jerman.

PBBS mengundang Ibu/Bapak/ Teteh/Akang/ Uni/Uda/ Mas / Mba/ Bli/Mbok/, Sdr/Sdri., dll, dsb, teman-teman semua, untuk menghadiri Pojok Ngabako Maret 2011, pada tanggal 27 Maret 2011 di Ruang Serba Guna KJRI Frankfurt-Zeppelinallee 23-60325 Frankfurt am Main, pukul 14.00-16.00.  Mohon pemberitahuan untuk mereka yang akan hadir ke p.parang@yahoo.de, agar teman-teman di paguyuban bisa menyiapkan sekedar cemilan ringan menemani obrolan :).

Salam,
PBBS.

CAPOLAGA ADVENTURE


Capolaga Adventure Camp is an eco-tourism that is located in Cicadas Village, Panaruban, the Sagalaherang Subdistrict. Capolaga Adventure Camp had the beauty of the unique Cimuja river ecosystem such as the Cimuja waterfall, the Karembong waterfall and the Sawer waterfall. This place is also supported by many facilities for outbound activities, outing, family or company gathering, adventure activities, tracking, tea walk, camping ground and fishing.
The distance from Subang – Capolaga Adventure Camp is 35 km or 45 minutes, from Jakarta to Capolaga Adventure Camp (via Sadang toll road) is 190 km or 3 hours, from Bandung to Capolaga Adventure Camp is 45 km or 1.5 hours, from Ciater to Capolaga Adventure Camp is 5 km or 15 minutes, from crater to Capolaga Advanture Camp is 13 km or 25 minutes.

JIKA Anda ingin menikmati sisi lain kawasan Bandung, sesekali arahkan kemudi Anda ke Bandung Utara. Usai melintas kawasan Lembang dan Tangkubanparahu yang teduh dengan pohon cemaranya yang menjulang, Anda akan menemui kawasan wisata Ciater.
Di titik pertigaan antara Bandung, Ciater, dan Desa Cicadas Kab. Subang, Anda jangan berbelok ke kanan, tetapi berbeloklah ke kiri (ke arah Desa Cicadas). Sepuluh menit kemudian, Anda akan menemui kawasan wisata alam "Capolaga Adventure Camp".
Di kawasan ini Anda tidak hanya akan menikmati kebun teh yang menghijau atau alam pegunungan yang segar, tetapi juga berbagai objek wisata yang sudah dikemas sedemikian rupa. Mulai dari kawasan camping ground, air terjun, sungai, flying fox, tracking, bird watching, sampai ke agrowisata kebun sayuran dan buah organik.
Kawasan wisata alam Capolaga sebenarnya terdapat di Kab. Subang. Tepatnya di Kampung Panaruban, Desa Cicadas, Kec. Sagalaherang, Kab. Subang, Jawa Barat. Namun karena kawasan ini berada tepat di perbatasan Kab. Bandung, waktu tempuh ke kawasan ini tidak terlalu lama. Anda hanya akan menempuh waktu 1 jam dari arah Bandung, 1 jam dari Purwakarta, 30 menit dari Kota Subang, 30 menit dari Lembang, dan 15 menit dari Sagalaherang.
Kawasan ini memiliki keindahan ekosistem Sungai Cimuja dan Sungai Cikoneng yang menghadirkan 4 air terjun unik. Keempat air terjun itu adalah Air Terjun Cimuja, Air Terjun Karembong, Air Terjun Sawer, dan Air Terjun Doa Badak. Keempat air terjun inilah yang menjadi daya tarik kawasan perkemahan Capolaga.
Starting point masuk kawasan ini dimulai dari pintu masuk Capolaga Adventure Camp. Di tempat ini Anda bisa membayar biaya masuk terlebih dahulu dan mendapatkan kantong keresek. Buat apa? Mungkin itulah pertanyaan yang muncul. Bukankah dengan kawasan alam yang segar pengunjung tidak akan mabuk atau muntah?
Eits...tunggu dulu! Ini kawasan reservasi bung! Kalau Anda ingin masuk dan menikmatinya, tidak boleh buang sampah sembarangan. Kantong keresek itulah yang menjadi tempat sampah mobile agar pengunjung tidak membuang sampah di mana-mana.
"Kita memang tidak menyediakan tempat sampah karena cara itu akan menambah pekerjaan bagi pengelola. Bukan karena malas, tetapi justru untuk mendidik kita semua untuk tidak membuang sampah sembarangan," ujar H.M. Tjetje Suhana, Direktur Capolaga Adventure Camp.
Sebenarnya, ada dua jenis pengunjung yang datang ke kawasan ini. Pengunjung yang datang hanya untuk menikmati alam dan air terjun serta pengunjung yang datang untuk menginap. Pengunjung jenis kedua biasanya sudah melakukan reservasi terlebih dahulu karena biasanya rombongan dan menginap, sedangkan pengunjung pertama bisa datang langsung saat itu juga.
Pengunjung rombongan berasal dari berbagai kalangan, ada mahasiswa yang akan melakukan pengamatan alam, burung, ataupun sungai, karyawan perusahaan yang akan outbound ataupun outing; sampai ke rombongan ibu-ibu PKK ataupun darma wanita yang ingin melihat kebun sayur/buah organik. Sementara itu, untuk pengunjung perorangan, ada juga lho yang datang karena ingin meraup tuah dari air terjun.
Para pengunjung yang menginap, bisa bermalam di bawah tenda di blok-blok perkemahan yang tersedia. Blok ini disesuaikan dengan posisi air terjun, ada blok Cimuja, blok Karembong, blok Sawer, dan blok Goa Badak. Satu blok perkemahan dapat menampung 50 orang dengan tarif tiap orang Rp 7.500,00 per malam.
Sementara itu, pengunjung yang tidak mau menginap di tenda, dapat menyewa pesanggrahan ataupun vila yang disediakan pengelola. Tarifnya berkisar Rp 350.000,00 sampai Rp 1.250.000,00 dan dapat menampung cukup banyak orang.
**
KEISTIMEWAAN kawasan ini terletak pada keempat air terjunnya. Air terjun (curug dalam bahasa Sunda) pertama adalah Curug Cimuja. Curug ini terletak di kawasan paling hulu. Konon, menurut Tjetje, pada zaman dulu curug ini sering digunakan untuk memuja dan bersemedi memohon sesuatu.


Pemujaan biasanya dilakukan pada malam hari dan bila sang pemuja sudah selesai menyampaikan doa-doanya, ia harus mandi pada malam hari di bawah tumpahan curug ini. "Tapi sekarang juga ada lho yang sengaja datang untuk melakukan semedi seperti itu," ujar Tjetje.


Curug kedua adalah Curug Karembong. Sesuai namanya, curug ini menyerupai karembong (selendang) yang "dikebutkan". Derai airnya yang khas dapat dimanfaatkan untuk water teraphy. Bagi Anda yang sering pegal linu dan rematik, dapat mencoba keampuhan Curug Karembong ini.


Curug berikutnya adalah Curug Sawer. Curug ini tinggi hanya 5 meter. Akan tetapi kalau airnya sedang besar, curug ini menyerupai bunga yang ditaburkan. "Makanya, namanya pun Curug Sawer. Sawer dalam bahasa Sunda kan bisa diartikan tabur bunga," kata Tjetje.
Di bawah tumpahan Curug Sawer terdapat kolam berukuran lebar. Anda bisa mandi di tempat ini. Namun sayang, Anda tidak diperkenankan menggunakan sabun mandi. Tujuannya tiada lain agar ekosistem di kawasan curug tersebut tidak terganggu.
"Kalau mau pakai sabun atau sampo, mandinya di kamar mandi yang sudah disediakan saja," unkap Tjetje seraya menambahkan, mandi di bawah curug ini bisa dilakukan dengan menggunakan dedaunan. Asyik ya, jadi kayak Tarzan!

Curug yang terakhir adalah Curug Goa Badak. Di tempat ini Anda bukan hanya dapat menikmati keindahan curug setinggi 8 meter, tetapi juga kolam untuk berenang dan gua. Entah karena apa gua ini disebut gua badak. Akan tetapi, posisinya yang berada tepat di sebelah air terjun membuat gua ini cukup menarik.
Jarak tempuh antar-curug yang satu dengan lainnya, berbeda. Jarak antara Curug Cimuja dan Curug Karembong lebih kurang 250 meter, Curug Karembong-Curug Sawer lebih kurang 250 meter, Curug Sawer-Curug Goa Badak lebih kurang 550 meter. Jadi, jika Anda menyambangi keempat curug tersebut, Anda sudah berjalan lebih kurang 1.250 meter!
Meski jarak tempuh ini lumayan, Anda tidak akan merasa kelelahan. Udaranya yang segar dengan pepohonan hutan yang memayungi, Anda bisa terus dibuat penasaran untuk menuntaskan kunjungan ini sampai di Curug Goa Badak. Apalagi, di setiap curug Anda dapat rehat dulu sebentar sambil menikmati keindahan dan keistimewaan masing-masing curug.
**
JUMLAH kunjungan terbanyak, kata Tjetje, terjadi setiap akhir pekan. Waktu terlama menginap, pada umumnya 3 sampai 5 hari. Untuk perusahaan-perusahaan yang melakukan outbound ataupun outing dapat membawa konsumsi sendiri ataupun memesan kepada pengelola.
Begitu juga bagi pengunjung perorangan atau keluarga. Bila memang tidak sempat membawa makanan dapat memesan makanan ke tempat pengelola. "Untuk minuman dan makanan ringan, selalu tersedia. Tetapi untuk permintaan makan bagi keluarga, biasanya harus pesan terlebih dahulu," ujar Tjetje menerangkan.
Sisi lain yang dapat Anda kunjungi adalah lahan sayur/buah organik yang dikembangkan Kandaga Organic. Lahan yang dikelola Nick Djatnika & Sari Koeswoyo dan rekan ini ditanami berbagai jenis sayuran dan buah organik. Aneka selada benih impor seperti red bowl salad, raddiccho rossa de treviso, pandero, lettuce, spinach, dll dapat Anda temui di tempat ini.
Kalau kebetulan sedang panen, Anda dapat membawanya pulang. "Lumayan, kalau buah di kebun biasanya lebih murah. Padahal, ini sayuran organik lho. Dikembangkannya tidak menggunakan pestisida," ujar Nick.

Kebun organik ini, menurut rencana akan dikembangkan lebih jauh sebagai kebun pembelajaran yang bersifat ecotourism.
Kawasan lain yang menarik dan berdekatan dengan Capolaga adalah kawasan penangkaran kupu-kupu. Tempatnya terletak tepat di depan Capolaga.

Desa Wisata Wangun Harja dan Curug Bentang


Kampung Banceuy adalah satu dari empat lokasi yang ditetapkan Pemerintah Kabupaten Subang sebagai Desa Wisata Wangun Harja sejak tahun 1999. Empat desa yang berada pada ketinggian 800-1.100 meter di atas permukaan laut itu meliputi Desa Sanca, Cibitung, Cibadak, dan Cibeusi. Semuanya di wilayah Kecamatan Ciater.
Kampung Banceuy berjarak sekitar 30 km dari pusat Kabupaten Subang, 32 km dari Bandung, atau 185 km dari Jakarta (melalui Tol Jakarta-Cikampek). Dari Subang atau Bandung, lokasi itu bisa ditempuh selama 40-60 menit perjalanan darat melalui Desa Palasari, Sarireja, atau Kasomalang di Kecamatan Jalancagak.
Atang Mulyana (66), Ketua Kelompok Penggerak Pariwisata (Kompepar) Desa Wisata Wangun Harja, mengatakan, kawasan Wangun Harja memiliki sejumlah obyek yang bisa dikunjungi. Di area seluas sekitar 100 hektar itu terdapat Bukit Wangun Harja, Curug Bentang (di perbatasan Desa Sanca dan Cibitung), Curug Cibareubeuy (Desa Cibeusi), dan Situs Cibadak (Desa Cibadak). Di desa tersebut terdapat sebuah sungai besar yang menjadi sumber air bagi pertanian penduduk. Pada aliran sungai inilah terdapat curug bentang yang biasanya para wisatawan mandi di bawah curug tersebut.


Curug Bentang, Subang


Ada pula beberapa makam yang masih diziarahi, seperti makam Aki Leutik (Raden Ismail Saleh), makam Prabu Jaya Tumenggung, dan makam Eyang Haji Pungkur (Haji Singadiraksa). Keberadaannya dilindungi dan telah ditetapkan sebagai Situ Kampung Adat Banceuy oleh Balai Pengelolaan Kepurbakalaan Sejarah dan Nilai Tradisional

Setiap tahunnya di desa tersebut diadakan acara pesta rakyat yaitu Ruatan Bumi yang telah dikemas dalam suatu paket wisata. Ruatan Bumi adalah salah satu upacara adat masyarakat agraris yang sampai saat ini masih dilaksanakan oleh masyarakat Subang, tepatnya di Kampung Banceuy Wangun Harja. Ruatan berasal dari kata rawat atau merawat yang artinya mengumpulkan seluruh masyarakat kampung serta hasil bumi, baik yang masih mentah maupun yang sudah diolah. Upacara Ruatan Bumi dilaksanakan sebagai ungkapan syukur kepada Tuhan YME atas keberhasilan hasil pertanian dan sebagai tolak bala serta ungkapan penghormatan terhadap nenek moyang mereka yang telah berjasa meningkatkan taraf hidup di Kampung Banceuy tersebut. Acara Ruatan Bumi di Kampung Banceuy ini telah dilaksanakan sejak tahun 1800 Masehi.

Menjadi “DUTA” menjadi diri kita


Pendahuluan


Dengan makin maraknya beragam jenis kompetisi mencari bakat, masyarakat senantiasa ditawarkan untuk menjadi sebuah citra akan sesuatu (baca : duta). Tidak hanya produk yang berbau komersil, gerakan-gerakan massa, hingga identitas budaya, berlomba-lomba meningkatkan daya saingnya dengan menciptakan beragam kompetisi. Di satu sisi hal ini merupakan sebuah upaya positif dalam meningkatkan geliat kepedulian dan kecintaan masyarakat akan produk yang diusung. Masyarakat pun seakan mendapat stimulus-stimulus untuk mendalami dan mengenali bentuk produk yang diwacanakan. Namun ketika kita berbicara seputar kompetisi yang mengusung produk identitas budaya, kedalaman pemaknaan dan “keseriusan” menjadi sebuah prasyarat yang tidak dapat ditawar lagi. Karena citra identitas budaya akan selalu merepresentasikan komunitas masyarakat dimana budaya tersebut hidup dan berkembang. 



Manusia adalah representasi akan dirinya



Ketika manusia diciptakan di alam dunia, manusia diberikan kebebasan untuk menjadi apa saja yang ia kehendaki. Seorang bijak pernah berujar, bahwa “Kita adalah apa yang kita kerjakan berulang-ulang. Karena itu, keunggulan atau karakter terbentuk bukanlah hanya oleh satu perbuatan, melainkan kebiasaan”. Dalam konteks menjadi DUTA: representasi produk yang diwakili haruslah didasari atas kesejatian dan kebersatuan antara diri dan produk yang kita representasikan. Hal tersebut harus dimulai atas komitmen dan konsistensi diri dalam melakukan kebiasan-kebiasaan yang mencerminkan representasi diri yang kita inginkan. Namun demikian, kebiasan-kebiasaan tersebut tidaklah cukup, ketika kita tidak dapat menggambarkan impian besar yang menjadi tujuan akhir kita. Sebagai ilustrasi, ketika masing-masing dari kita memutuskan untuk mengikuti pemilihan Mojang Jajaka Jawa Barat. Hal dasar yang harus dijawab oleh masing-masing kita adalah, apa gunanya pemilihan ini bagi perjalanan hidup saya kelak? Dunia akan selalu memberi ruang pada orang-orang yang kata-kata dan perbuatannya mencerminkan ia tahu mau kemana (Napoleon Hill) . Tanpa tujuan yang jelas manusia akan menjadi musafir-musafir dunia yang hampa. Buah-buah kehidupan dirinya tak dapat dinikmati oleh dahaga-dahaga alam dunia.



Dalam merepresentasikan suatu identitas budaya, kita harus selalu senantiasa sadar bahwa “label” budaya yang kita usung tercetak kuat di benak masyarakat umum. Dan terkadang label ini akan selalu melekat seumur hidup kita. Suka atau tidak, ketika kita memilih untuk menjadi bagian dari representasi identitas budaya (Mojang Jajaka Jawa Barat, sebagai contoh) maka kita harus memiliki kesadaran bahwa citra masyarakat Jawa Barat khususnya generasi muda sedang kita representasikan. Ketika kita berlaku salah, maka masyarakat luas “umumnya” akan menjustifikasi bahwa seluruh generasi muda Jawa barat melakukan perbuatan salah. Majas Sinekdot Pars Pro Toto akan selalu berlaku dalam kasus ini. Hal ini yang harus senantiasa diingat, bahwa reputasi dan pencitraan yang diwakilkan kini tidak hanya berbicara bagi individu namun khalayak yang lebih luas. Dan yang perlu digaris bawahi bahwa reputasi tidak dapat dibangun hanya dengan promosi, namun haruslah dengan kerja keras, kualitas, dan tata nilai.



Menjadi diri kita, Menjadi Manusia Unggul



Manusia dianugrahi sikap dasar yang selalu tidak puas atas apapun yang dicapainya. Hal ini menumbuhkan sikap kompetitif di dalam setiap insan. Seringkali sikap kompetitif ini berbanding terbalik dengan rasa percaya diri yang dimiliki. Berbicara mengenai kualitas manusia, hampir diseluruh peradaban di muka bumi, sikap kompetitif dan rasa percaya diri menjadi sebuah tolak ukur baku yang menyatakan keunggulan diri manusia. Menjadi Duta seyogyanya kita telah memiliki sikap percaya diri yang menyatakan bahwa kita unggul dibanding sekelompok manusia yang lain. Setiap manusia memiliki hak untuk menjadi manusia unggul, namun sedikit sekali yang mempersiapkan dirinya sungguh-sungguh untuk menjadi manusia unggul (Vince Lombardi) . Keunggulan kualitas manusia memang tidak pernah dibangun dalam kesenyapan. Ia hanya akan diperoleh dari pengalaman, ujian, dan penderitaan yang memperteguh jiwa. Dan kunci keberhasilan selalu terletak pada niat diri yang teguh. 



Penutup



Setiap orang ingin mendapat hasil yang besar. Banyak yang tak menyadari segala yang besar dibangun dari hal-hal kecil – Frank Clark



Sebuah kalimat penutup yang pernah dituturkan Frank Clark diatas kembali mengingatkan pada kita bahwa segala pilihan untuk menjadi besar atau kecil berada ditangan kita, dan sebelum segala sesuatu menjadi besar hal-hal kecil merupakan instrumen-instrumen penting yang akan membangun kebesaran kita. Menjadi seorang Duta merupakan sebuah langkah untuk memberi nilai menjadi generasi-generasi unggul di masa yang akan datang, kesadaran-kesadaran inilah yang seharusnya dapat membangkitkan Jawa Barat dan Indonesia pada masa yang akan datang. Namun pertanyaannya siapkah anda menjadi bagian didalamnya?

-satri akbar-

Mengurai Carut Marut Kemacetan Ibukota

              Tapi sehebat apapun kota Jakarta, Jakarta tetap kota yang mempunyai keterbatasan wilayah sebuah kota yang mempunyai keterbatasan daya tampung. Artinya, harus ada batasan jumlah penduduk yang mendiami kota Jakarta. Batasan ini diperlukan untuk menyediakan kehidupan yang layak bagi tiap manusia yang hidup di dalamnya. Karena jika batas ini dilanggar, atau terjadi ketimpangan antara luas wilayah dan jumlah penduduk maka bisa diprediksi akan muncul berbagai macam masalah, baik sosial, transportasi, ekonomi, atau bahkan politik.
 Jakarta primadona Ekonomi Indonesia, hampir dari 70% perputaran uang Indonesia terjadi di kota ini. Hal ini lantas menjadi magnet yang mampu menjadi daya tarik tersendiri untuk membuat orang-orang mau datang dan mengadu nasib di Jakarta. Tidak pelak lagi, Jakarta kemudian dipenuhi oleh kaum urban yang ingin “berjudi” demi kehidupan yang lebih baik.


                Mari kita fokus pada masalah transportasi, akibat ledakan penduduk yang terjadi di Jakarta yang tidak diiringi dengan penambahan jumlah wilayah di Jakarta (jelas ini tidak mungkin kecuali dilakukan reklamasi pantai utara jawa) akan menciptakan masalah baru di Jakarta khususnya masalah transportasi. Secara sederhana, jumlah penduduk yang meningkat harus diiringi dengan peningkatan pelayanan transportasi publik baik kualitas maupun kuantitas. Ini logika sederhana yang ada dalam manajemen pengelolaan perkotaan, maka saat peningkatan pelayanan transportasi publik tidak dapat dipenuhi, orang-orang akan beralih kepada kendaraan pribadi seperti mobil dan motor. Dan jika jumlah kendaraan yang beredar di Jakarta jauh melebihi rasio pertambahan dan luas jalan yang ada di Jakarta dapat ditebak kemudian apa yang akan terjadi, yaitu kemacetan. Dan hal itulah yang kini terjadi di Jakarta.

                Memang minimnya pelayanan transportasi publik bukanlah penyebab satu-satunya kemacetan di Jakarta, ada faktor lain. Kebijakan transportasi publik seperti terkait fiskal kendaraan,   kebijakan investasi industri kendaraan terutama terkait pembatasan produksi kendaraan dinilai juga mempengaruhi atau menjadi penyebab terjadinya kemacetan di DKI Jakarta. Dari data yang berhasil dihimpun oleh Polda Metro Jaya pada tahun 2009 jumlah kendaraan bermotor mencapai 9.993.867 unit, dan pada tahun 2010 jumlahnya meningkat 15% yaitu mencapai jumlah 11.362.396 unit yang terdiri dari kendaraan roda dua 8.244.346 unit dan roda empat sebanyak 3.18.050 unit. Jumlah tersebut belum ditambah dengan jumlah angkutan yang melintas dalam satu trayek yang menurut data Direktorat Lalulintas Polda Metro Jaya sebanyak 859.692 unit, pertumbuhan kendaraan saat ini pun mencapai 700 kendaraan perhari. Bandingkan hal tersebut dengan panjang jalan di Jakarta yang hanya 7.650 km dan luasnya hanya 40,1 km atau 0,26 persen dari luas wilayah DKI, sedangkan pertumbuhan panjang jalan hanya 0,01% per tahun. Tanpa perlu penulis jelaskan lebih lanjut dapat terlihat dengan jelas ketimpangan nyata yang terjadi antara jumlah kendaraan yang beredar di Jakarta dengan total panjang jalan yang ada di Jakarta.

                Permasalahan kemacetan ini memberikan tenggat waktu untuk segera diselesaikan, menurut prediksi dari Polda Metro Jaya dan beberapa lembaga penelitian yang bergerak dalam bidang transportasi, jika masalah kemacetan di Jakarta ini tidak segera diselesaikan maka bisa dipastikan pada tahun 2014 atau paling lambat pada tahun 2015 Jakarta akan mengalami fenomena macet total. Hari ini saja kita sudah sering melihat kemacetan yang makin parah, tidak hanya jalan raya bahkan trotoar yang notabenenya adalah hak para pejalan kaki diambil dan direbut oleh para pengendara motor. Miris melihatnya, tetapi itulah faktanya kemacetan membuat manusia di Jakarta menjadi tidak manusiawi. 

                Penulis mencoba untuk menganalisa akar masalah dari kemacetan ini, diantaranya: Pertama, kemacetan di Jakarta diakibatkan terjadinya ketimpangan antara jumlah penduduk dan daya tampung (kapasitas) kota Jakarta itu sendiri. Menurut data Badan Pusat Statistik pada tahun 2010 jumlah penduduk kota Jakarta mencapai 9.588.198 orang (bandingkan dengan jumlah penduduk pada Juni 2007 dimana mencapai angka 7.552.444 orang, itu artinya ada peningkatan sekitar 28% pada tahun 2010) sedangkan luas DKI Jakarta mencapai 662,33 Km2 sehingga jika dihitung, kepadatan penduduk kota Jakarta adalah sebanyak 14.476 orang per Km2. Hal tersebut belum ditambah dengan  pertambahan penduduk pada siang hari dimana banyak orang datang ke Jakarta untuk bekerja yang berasal dari kota-kota satelit di sekitar kota Jakarta (Bogor, Depok, Bekasi dan Tanggerang).

                Kedua, kemacetan di Jakarta terjadi akibat kebijakan transportasi publik yang tidak jelas, tidak ada rencana jangka panjang dan tidak ada kesinambungan program dan strategi pembangunan. Kemampuan pengelolaan transportasi yang publik yang buruk dapat dilihat dari kualitas angkutan umum yang ada di Jakarta. Sudah bukan rahasia umum lagi kalau angkutan umum yang suka ‘ngetem’ sembarangan dan ugal-ugalan merupakan salah satu sumber kemacetan di Jakarta. Selain itu maraknya tindakan kriminalitas yang terjadi di atas angkutan umum membuat tidak banyak warga Jakarta yang mau menggunakan jasa angkutan umum, rata-rata warga Jakarta memilih untuk menggunakan kendaraan pribadi. Kereta Api Listrik pun sama saja, sering terjadi keterlambatan dan pelayanan yang kurang memuaskan seperti jumlah gerbong yang sedikit tidak sebanding dengan jumlah penumpang yang harus di angkut menyebabkan warga Jakarta juga ‘ogah-ogahan’ menggunakan jenis transportasi ini (andaikan ada yang menggunakan Kereta Api Listrik hal itu dikarenakan mereka sudah tidak mempunyai pilihan lain, karena tidak ada pilihan lain yang lebih baik).

              Ketiga, kemacetan Jakarta juga terjadi dikarenakan biaya penggunaan kendaraan pribadi lebih murah dibandingkan dengan kendaraan umum. Sebagai contoh mengapa sekarang banyak kendaraan pribadi yang beredar di Jakarta adalah karena cara untuk memperolehnya sangatlah mudah, motor misalnya hanya dengan uang Rp.500 ribu sudah bisa membawa pulang motor ke rumah (kredit motor), juga dengan mobil hanya dengan uang Rp.30-40 juta sudah bisa membawa pulang mobil ke rumah (kredit mobil). Ditambah dk engan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) yang relatif murah menyebabkan biaya menggunakan kendaraan pribadi jauh lebih murah dibandingkan dengan biaya menggunakan kendaraan umum. Sesuai dengan prinsip ekonomi maka sangat manusiawi jika kemudian warga Jakarta lebih memilih untuk menggunakan kendaraan pribadi dibandingkan dengan kendaraan umum.

            Keempat, kemacetan Jakarta juga terjadi akibat tidak ada upaya dari pemerintah untuk melakukan pembatasan terhadap pertumbuhan kendaraan pribadi dan pengeluaran izin trayek angkutan umum, hasilnya adalah jumlah kendaraan yang melebihi batas normal kewajaran yang dapat ditampung oleh jalanan Ibu kota. Pemerintah terlihat kurang tegas untuk melakukan pembatasan atau penerapan pajak progressif pada kepemilikan kendaraan pribadi di Jakarta. Hal ini ‘sulit’ dilakukan karena terkait dengan kebijakan investasi yang melibatkan perusahaan-perusahaan produsen kendaraan skala besar.

           Lalu apa yang harus dilakukan oleh Pemerintah dalam hal ini sebagai pelaku kebijakan nasional dan Pemerintah Daerah sebagai pelaku kebijakan daerah yang bertanggung jawab atas pelaksanaan kebijakan transportasi ini.  Penulis sudah mencoba melakukan analisa dan menyusun beberapa solusi yang dirasa sesuai dan dapat membantu untuk menyelesaikan permasalahan kemacetan di Jakarta. Beberapa solusi tersebut diantaranya:

            Pertama, sebelum berbicara mengenai kebijakan transportasi publik yang manusiawi perlu dipikirkan sebelumnya bagaimana caranya untuk menekan jumlah penduduk yang ada di Jakarta. Menekan tingkat urbanisasi salah satunya dapat dilakukan dengan melakukan pembangunan di desa. Selama ini banyak kaum urban memilih Jakarta sebagai kota tujuan mereka karena di desa tempat mereka tinggal pilihan lapangan pekerjaan yang ada sangatlah sedikit, sehingga membuat mereka mau tidak mau harus pergi ke kota Jakarta guna memperoleh pekerjaan yang layak. Oleh karenanya kedepannya Pemerintah perlu memikirkan untuk melakukan pembangunan yang massif di daerah pedesaan, hal ini juga membantu untuk melakukan pemerataan pembangunan di Indonesia. Untuk hal ini bisa dilakukan dengan tansmigrasi, hanya saja transmigrasi ini perlu disiapkan dengan baik. Jangan sampai para transmigran malah memperoleh kehidupan yang lebih buruk saat memutuskan untuk melakukan transmigrasi ke daerah tempat tujuan transmigrasi.

            Kedua, untuk bisa menyelesaikan kemacetan di Jakarta adalah dengan menekan jumlah kendaraan yang beredar di Jakarta. Selain kendaraan pribadi, yang juga harus ditekan adalah jumlah kendaraan umum yang melebihi kuotanya dalam satu trayek angkutan. Untuk kendaraan pribadi sebenarnya bisa menggunakan beberapa cara, dan hal ini juga digunakan di beberapa Negara lain seperti Singapura dan Jepang misalnya kebijakan pengenaan pajak progressif terhadap kelipatan jumlah mobil yang dimiliki dalam suatu keluarga. Misalnya jika saya dalam satu keluarga, membeli mobil kedua dan ketiga maka pajak yang dikenakan kepada saya akan lebih besar dibandingkan saat saya membeli mobil pertama dan begitu seterusnya, sehingga menyebabkan orang-orang harus berpikir ribuan kali untuk membeli mobil kedua dan ketiga dan seterusnya. Kebijakan fiskal juga dapat diterapkan pada bahan bakar kendaraan, dimana dengan menaikkan harga bahan bakar kendaraan pribadi namun mensubsidi harga bahan bakar kendaraan umum sehingga biaya untuk menggunakan kendaraan umum bisa lebih murah dibandingkan daripada menggunakan kendaraan pribadi. Jika ini diterapkan, secara prinsip ekonomi akan membuat orang-orang beralih ke kendaraan umum, hal ini sejalan dengan prinsip ekonomi.

              Selain menggunakan instrumen kebijakan fiskal seperti di atas, menekan jumlah kendaraan juga dapat digunakan dengan memperketat izin pengeluaran Surat Izin Mengemudi dan Izin Trayek Kendaraan Umum dengan memperhatikan kebutuhan warga Jakarta. Juga dengan melakukan pembatasan usia kendaraan seperti yang diterapkan di Jepang, misalnya setelah melewati usia x tahun maka kendaraan tersebut harus segera “di museumkan”. Jadi selain bisa menekan, jumlah kendaraan yang beredar juga bisa “menyehatkan” jalanan Jakarta.

             Ketiga, pembatasan kendaraan pribadi tidak akan berguna jika tanpa diiringi dengan peningkatan kualitas pelayanan transportasi umum. Karena harapan yang ingin dicapai saat dilakukan pembatasan kendaraan pribadi adalah beralihnya para pengguna kendaraan pribadi kepada kendaraan umum seperti kereta, Bus Trans Jakarta atau jenis kendaraan umum lain. Sebagai contoh, penerapan bus transjakarta sebagai salah satu “quick wins” Pemda DKI Jakarta penulis katakan belum cukup berhasil, karena hanya menarik para pengguna angkutan umum seperti bis, metromini, kopaja dan lain-lain. Sedangkan pengguna kendaraan pribadi seperti motor dan mobil hanya sedikit yang kemudian beralih menggunakan Bus Trans Jakarta. Hal ini bisa dimaklumi dikarenakan pelayanan yang diberikan masih jauh dari memuaskan. Hal-hal yang sering menjadi keluhan adalah masalah keterlambatan waktu, kemacetan yang masih sering terjadi walau sudah diadakan jalur khusus untuk Bus Trans Jakarta, jumlah armada yang tidak sesuai dengan jumlah penumpang sehingga menyebabkan penumpang harus berdesak-desakan dan tidak nyaman serta kurang adanya fasilitas pendukung lain seperti tempat parkir guna memarkir kendaraan pribadi atau bus satelit guna “menjemput” calon penumpang dari kantong-kantong pemukiman. Hal ini dirasa perlu mengingat jarak antara shelter Bus Trasn Jakarta  dan perkampungan atau pemukiman penduduk relatif masih jauh sehingga membutuhkan angkutan satelit.

              Dan Keempat, terkadang kegagalan dalam penerapan kebijakan guna menyelesaikan permasalahan kemacetan di Jakarta bukan pada minimnya kualitas dari kebijakan  yang dihasilkan, tetapi akibat adanya ego sektoral dari masing-masing Pemerintah Daerah maupun organ yang berwenang. Sebagai contoh sampai saat ini masih sering terjadi tarik menarik terkait kebijakan transportasi kota antara Jakarta dan Tanggerang atau kota lan yang tergabung dalam Jabodetabek. Jika hal ini terjadi maka diperlukan turut campur dari kewenangan yang jauh lebih tinggi dalam hal ini adalah Pemerintah Pusat. Pemerintah Pusat harus melakukan terobosan untuk menerabas dengan tegas ego sektoral yang berkembang di daerah-daerah tersebut. Dengan hal tersebut diharapkan dapat mengefektifkan kebijakan yang dikeluarkan pemerintah. Memang sejak rezim desentralisasi bergulir pasca reformasi hal tersebut menciptakan raja-raja kecil di daerah, hal ini secara langsung membuat jalur koordinasi yang awalnya terpusat atau komando menjadi tersebar, sehingga menyebabkan butuh waktu dan tenaga lebih untuk melaksanakan suatu kebijakan.

            Saat ini tengah dibentuk Otorita Transportasi Jabodetabek (OTJ) yaitu sebuah lembaga yang diperuntukkan khusus untuk menyelesaikan permasalahan transportasi di Jabodetabek. OTJ dibentuk sebagai upaya pamungkas akibat buntunya kebijakan yang dilakukan baik oleh Pemerintah Pusat maupun Daerah. Dengan OTJ ini diharapkan masalah-masalah ego sektoral yang sebelumnya muncul bisa diselesaikan dengan baik, sehingga prinsip pelayanan publik untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dapat terwujud.

           Terakhir, penulis hanya ingin menyimpulkan bahwasanya masalah kemacetan di DKI Jakarta lagi bukan lagi menjadi masalah Pemda DKI Jakarta saja, atau Pemda lain yang tergabung dalam Jabodetabek tetapi sudah menjadi masalahan nasional mengingat peran sentral Jakarta yang sangat besar dalam perekonomian dan pemerintahan Indonesia. Bayangkan selama ini energy dan waktu warga Jakarta sering terkuras karena kemacetan, BBM kita pun juga demikian sehingga tak pelak lagi menimbulkan kekhawatiran yang dalam. Jika saja sampai 2014 tidak ada kebijakan transportasi yang berarti maka siap-siap saja Jakarta akan Macet Total pada 2014. Jika hal itu terjadi maka harapan untuk melihat Indonesia yang sejahtera dan maju hanya akan menjadi cerita isapan jempol belaka.


Sakti Lazuardi
Pemerhati Kebijakan Publik
Anggota Grup Diskusi Makara Progressif UI

05 January 2013

Milih GUBERNUR JAWA BARAT: narekah ngeunteung , malahmandar ngaraih untung



Milih GUBERNUR JAWA BARAT: narekah ngeunteung , malahmandar ngaraih untung

Ku Ucu saepurridwan (Pituin warga Jawa Barat) 
Dina sasih Februari 2013 anu bakal sumping , masyarakat Jawa Barat baris ngarandapan hiji prosesi hajat nu kawilang rongkah, tegesna milih gubernur kanggo periode 2013-2018. Dupi Waragad anudisayogikeun kanggo nyeleksi anu parebut menuju gedung sate pikeun jadi Jabar 1 jeung Jabar 2,  estu lain saeutik : 700 milyar. Saumpama dibagikeun ka 35 juta rahayat Jawa barat maka bakal kabagean artos masing-masing Rp 20.000,- sami jeung buruhan ngabedug di sawah atawa kokoreddi kebon sapoe jeput. Keur kelas ewe-randa mah eta teh jumlah anu kawilang lumayan. Cukup jang dahar tilu kalieun.

Pribados bade nataan hiji-hiji kontestan gubernur disartaan ku komentar jeung analisis pribados anubasajan pisan, namung teu aya lepatna urang berpendapat di alam demokrasi ieu. Kalima calon eta teh nyaeta (i):

1.Dikdik – Toyib (independen)

Dikdik mangrupakeun Hiji polisi mantan Kapolda Sumatera Selatan, anjeunna ngaluluguan paguyuban Tarekat Syattariah (anu disebarkeun ku Syeikh Abdul Muhyi Pamijahan, wafat 1730 M). Ieu pasangan teh memang kirang familiar dina cepil urang. Asana Pa Dikdik majeng via independen leuwih condong kana penanaman budaya demokratis jeung pesan moral pikeun partey-partey nu aya, sugan jadi hiji koreksi jeung shock therapy ngarah partey nu aya teu narsis teuing jeung daek ngomean laku.

2.Yusuf Macan Effendi (Dede yusuf)-Lex laksmana (Diusung ku Demokrat)

Dede tos majeng 5 taun nyarengan ahmad heryawan. Mun Pa Ahmad raket jeung agamawan, Dede mabet kana jalur sejen nyaketan budayawan, seniman, jeung aktif di kepramukaan. Lex laksmana mangpuluh-puluh taun tetep-renggenek di gedung sate, janten kahirupan birokrasi provinsi geus ngadarah daging dina jiwa raga anjeuna. Pa dede gaduh modal besar segi popularitas mengingat lami malang-melintang janten bintang film, bintang iklan sareng mandu kuis saumpamana wae pami saderek teu lali:  Kuis Tak-tik-boom. Problemna segi elektabilitas (peluang keterpilihan) pihak calon  wakil moal pati nyumbang suara signifikan sabab kurang dikenal ku khalayak, oge pemberangkatanna ti internal partey anu sami. Perlu dicatet Pa Dede tadina PAN, waktos nyarengan Ahmad Heryawan kapan Dede Teh Ti partey biru berlambang matahari , mun nu deleka mah bakal nyebat anjeunna kutu loncat, kena-kena demokrat keur nanjung ngadon pindah kongsi. Salajengna kondisi riil ayeuna masyarakat kapan nuju rada senewen ka Demokrat , ku pemberitaan anu santer ngeunaan korupsi kader-kaderna terutama Nazarudin jeung Angelina, katambih proyek Hambalanganu beuki ditalungtik.

3.Ahmad Heryawan – Dedi Mizwar (PKS, PBB, PPP)

Kemungkinan bakal nembak konsumen kalangan Islam modernis jeung kalangan terdidik penduduk perkotaan. Dina pamilukada 2008 basis ahmad Heryawan di Bogor-Depok-Bekasi, ditunjang ku popularitas Dede Yusuf. Ayeuna dicobian diranjingkeun sareng Dedi Mizwar. Kesan pertama lamun urang nitenan pasangan ieu nyaaeta pada-pada islami. Heryawan sanes NU, sanes muhamadiyah, atawa Persis, anjeuna ketua PUI (Persatuan Umat islam) . Mung anu sok digemborkeun anjeuna atasnama PKS bae mengingat PUI teu patos tohaga. Dedi Mizwar mibanda citra agamis tina film jeung sinetron anu diperankeun ku manehna utamana wae Kiamat sudah dekat, Lorong waktu, jeungKetika Cinta bertasbih. Dedi mindeng merankeun ustad. Eta peran na film nyulusup kana sanubari jeung alam bawah sadar pemirsa, sehingga nalika ningali sosok Dedi Mizwar urang bakal boga kesan agamis, soleh, alim jeung sajabana. Sahenteuna pa Heryawan geus lima tahun ngajabat tangtu secara finansial boga bekel logistik anu cukup, sanaos dina survey anu dua sasih kapengker popularitas mantena eleh ku Dede bahkan kawon ku Rieke diah, rupina dicobaan dikatrol ku figur Dedi, susuganan hoki kawas 5 tahun nu katukang. Da pedah teu jauh teuing bareto wakilna Dede ayeuni Dedi, sugan we diparengkeun ku Gusti, kitu meureun gerentes batinna. Tantangan pasangan ieu nyaeta dina kaparigelan teknis pemerintahan. Da teu sakur jalma temen jeung berprilaku lurus tuluy  sukses di pemerintahan, sabab aya kalana kudu tegas, jeung berani ngadobrak tradisi, kitu pangemut sawatara pengamat. Malah Dedi Mizwar mah kapan balaka pisan barang manehna digosipkeun dilamar ku pa Ahmad langsung seuri ngabarakatak, pajarkeun teh manehna can boga pangalaman marentah jeung ngagem kalungguhan di birokrasi, da memang kitu ayana.

4.Rieke Diah Pitaloka – Teten Masduki (PDIP)

Rieke jeung Teten tos pada terang kagolong Tokoh bersih, teu neko-neko. Prediksi pribados ieu pasangan basisna tangtos sesuai jeung jargon PDIP nyatana Wong Cilik, duanana aktifis, nu hiji aktifis hak perempuan nu hiji aktifis anti korupsi. Semangat anu diusungna nolad ka Jokowi. Malah baju kampanyena ge kotak-kotak persis jokowi-ahok.Namung bakal janten bumerang saumpamana Rieke-teten meleg-meleg ngajiplak tagline kampanye Jokowi, margi DKI sareng Jabar ngagaduhan karakteristik anu beda. Umpamana wae masalah agama jeung etnis/kesukuan di Jakarta teu patos berpengaruh, kapan di Jawa Barat mah eta teh esensial pisan.  Tantangan na ieu dua jalmi teh sanes orang lapangan. Janten estuning teoritis, remenna ngritik, arang langki  dikritik. Atuh bisa jadi manajerial jeung wewesen birokrasina ge rada hengker. Basis dukungan Rieke-teten tetep wilayah Pantura. Bakal face to face na jeung Pa Yance. Oge tong hilap duanana Asgar (asli garut),utamana Teten anu terah Limbangan (Garut Utara) jadi memang dewek batur buruk-buruk papan jati, urang Garut bakal rada euyeub di pasangan kotak-kotak ieu.

5.Irianto MS Syaifudin (Yance)-Tatang Farhanul hakim (GOLKAR)

Yance teh mantan bupati Indramayu, pituin kader golkar meles bahkan ketua DPW Golkar jabar. Salami ieu kapamingpinanna kaetang nyongcolang, Pa Tatang Bupati Tasikmalaya periode 2001-2011. Kamampuhan birokrasina tegep, namung anjeunna kirang konsisten. Buktosna anjeuna saba’da eleh ku Rahmat yasin (Bupati Bogor) dina parebutan ketua DPW PPP Jabar lajeng nyebrang ka PAN. Teras ayeuna sanajan PAN gaduh calon, pa Tatang tetep teundeung ludeung maju kalayan nyantel ka calon ti Golkar. Ieu pasangan tina sudut pandang kompetensi birokratis, sarta administrasi pemerintahan asana unggul, namung sesah menyat dina perolehan suara. Mengingat duanana eks pejabat tingkat kabupaten,popularitasna  saukur di wilayah sekitar kabupaten aranjeuna. Sementara pasangan sejen ngaranggo Artis anu tos dikenal ku masyarakat teu kudu hese beleke  masangan spanduk jeung masang iklan. Yance-Tatang bakal rada mopo dina upaya nembus area Jabar bagian barat, semet bandung ka kulon. Priangan timur katut pantura mah asana bakal rada kacangking.


Kitu rupina gambaran kontestan sareng analisis pribadi sim kuring, namung problemna masyarakat Jawa Barat sesah diprediksi margi jumlahna seueur , lajeng platform partey tos teu puguh. Mun baheula mana Masyumi mana PNI, mana  NU, Mana PKI, ideologina kapan puguh  ngajalur ayeuna mah tetela geus pasalia hese dibedakeun. Bisa dibasakeun geus euweuh ekstrim kiri atawa ekstrem kanan, kabeh ngakuna moderat (siger tengah). Tuluy tina aspek pamilih mayoritas awam, gampang karayu, bisa balik setir gara-gara nampa duit 20 rebu dina serangan pajar. Ceuk kolot tea mah halodo sataun lantis ku hujan sapoe, sanajan aya calon sejen geus boga hade jeung jasa, nya anu pas hari H mere udud jeung bekel ngabaso jang anak pamajikan eta pisan anu dipilih.

Aya tilu pamilon pamilihan Gubernur anu latar belakangna artis, nepikeun ka Harian the Jakarta Post mere judul: Film stars to battle in west java (bintang film adu tanding dina pilgub jawa barat). Ieu fenomena nyalonkeun artis teh dikritik ku para pengamat pajarkeun cenah partey nyokot carainstan, mumul cape jeung kedul berjuang. Memang betah pisan kari ngalobi bakal calon, dibeuli kalayan mahar anu layak, tuluy bisa makalangan atas nama partey anu bersangkutan. Sikap instan ieun kapan timbul tina mandegna pola kaderisasi jeung pencerdasan di jero (internal partey). Saumpama dina mengbal kapan Messi-Xavi-Iniesta bisa kompak jiga kitu sabab geus babarengan 20 tahun , teu sirikna barang borojol tina kakandungan langsung nampa didikan akademi Junior Barca.  Taktik anu berlawanan dipilampah ku Roman Abramovich (pengusaha turunan Yahudi, nu mibanda Klub Chelsea) anu leuwih ngutamakeun jalan pintas meuli / transfer pamaen anu geus bersinar di klub seujeun. Pon kitu deui pelatih geus tujuh kali gentos salila manehna mingpin. Atuh payus pisan tulisan hiji pemerhati bola(ii) dina analisisna kapanan tepi ka nyebut binatang lapangan Chelsea. Nya pamaen jeung palatih Chelsea ku eta pangamat diselewengkeun tina bintang kana binatang. Da atuh disidik-sidik mah mirip binatang (sato), tanaga diperes, aspek kamanusaan na teu pati dihargai, nu penting berprestasi jeung lega hanca. Lebah dieu pisan industrialisasi jeung kapitalisasi sepakbola geus nyabut mengbal  tina akar filosofi sport nyaeta lenger (kaulinan) jeung hiburan, jadi kalah-menang jeunguntung-rugi. Tah muga-muga wae hal anu negatif ti sepakbola ulah nular kana pamarentahan khususna di Jawa Barat. Tangtu teu dipiharep ku urang di mangsa anu rek kasorang Gubernur jeung wakil terpilih ngadon teu bisa ngabuktikeun kamampuhan sabab proses instan tea, runtag tengah jalan, atawana awet rajet teu bisa kompak.

Provinsi jawa Barat hiji provinsi terbesar di Indonesia, boga peran sentral salaku penyangga DKI. Hayu urang titenan  data dan fakta nu dimuat harian The Jakarta post ngeunaan Provinsi Jawa Barat(iii):

Padumuk/ Populasi penduduk  : 49.153.773
Hak pilih                                    : 36.636.312
Luas wilayah                             : 34.817 KM2
Garis pantai                               : 755.8 KM
Jumlah kabupaten                     : 17(catetan: teu acan kalebet Kabupaten pangandaran)
Jumlah kota                               : 9
Jumlah Kacamatan                    : 598
Jumlah Desa                              : 5.708

Aya sawatara tantangan dina ngahaeutkeun pangwangunan di Jawa Barat, sahingga bisangajenggelek jadi kakuatan utama di Nusantara, sidik pisan yen jawa barat sanaos ageung potensi, lega wilayahna, jeung euyeub pendudukna tapi hanjakal jeung aneh geuning teu kaasup 10 besar provinsi termaju ti antawis 33 Provinsi di Indonesia (iv).

Sabab space dina ieu tulisan terbatas, Pribados moal patos ngagores pemerintahan, pendidikan, perdagangan, disamping memang rumaos sanes ahlina.  Sim kuring bade mintonkeun dua isu utama wae, nyaeta: persatuan dan kesatuan , jeung Ekspoitasi Sumberdaya alam .sakapeung nu dua eta teh sok disapirakeun padahal kacida pentingna sabab menyangkut alam, katut pangeusina. Lebah mana rek maju ekonomi perdagangan jeung pendidikan lamun alam jeung pangeusina teu dimumule. Naon hartina beunghar sagala loba lamun mindeng bencana alam, kitu pamadegan sim kuring. Salajengna dina nganalisis fenomena ku sim kuring dikembalikeun kana aspek kaislaman , sabab akhir-akhir ieu pemerintahan di urang asa beuki hedonis (berorientasi kepuasan & kamewahan) sarta permisif (serba boleh), ngarasa betah jeung jongjon dina laku teu uni, beuki macaweuhna nu  ngarumpak bagbagan agama jeung aspek moral tepi keun ka muncul istilah populer: KORUPSI BERJAMAAH.

Persatuan jeung Kesatuan

Problem utama suku sunda jeung  masyarakat nu hirup kumbuh di Jawa barat nyaeta kurang persatuan jeung kesatuan. Saderek anu kuliah atanapi damel di luar daerah utamina di ibukota  tangtos tiasa ngabentenkeun kumaha solidaritas urang Batak, Minang , jeung Jawa dibanding Sunda.Da atuh urang sunda mah pahare-hare jeung salembur teh. Saleuheung kitu, sawarehna mah silih tilas jeung silih rurud. Kohesifitas rasa persatuan urang sunda kacida hengkerna. Di lembur kacaritakeun aya dua tukang dagang lotek jeung gehu anu berkompetisi. Saleuheung mun kompetisi sehat da ieu mah pinuh ku intrik jeung sirik pidik. Bi ijah ngagogoreng bi Ijem pajarkeun Tukang lotek eta mah budug , bi ijem pon kitu deui sarua balik ngagogoreng ka Bi Ijah, ceuk bi Ijem: “ulah meuli lotek jeung gehu ka bi Ijah, sok Utah getih, TBC!!!” Cobi titenan urang Cina mah kapan beda, sauyunan silih-rojong. Umpamana urang ngamaksad meser beusi ka Naga chung Citapen . Kari-kari teu aya, koredas. Kapan dituduhan sina ngagaleuh ka toko sejen: “tuh pak haji cobian  di indihiang aya Toko Jangkar mas caketeun SMA 2!”,  Kituh saur si engko.

 Budaya gotong royong khususna suku sunda oge sakumna penduduk jawa barat kudu ditingkatkeun. Konsep gotong  royong ngan saukur dina pelajaran Pendidikan Moral Pancasila (PMP), anu beh dieunakeun robah jadi PPKN (pendidikan pancasilan dan kewarganegaraan), tuluy salin ngaran jadi PKN.ayeuna malah aya wacana pancasila na disupkeun deui, atuh tina PKN janten PPKN deui. geus ah , lieur mikiran gonta-ganti wae kurikulum jeung ngaran mata pelajaran.

Salajengna kapan di Jawa barat oge aya seke seler suku bangsa anu sejen, Perbedaan latar belakang etnis memang mindeng kasaksen jadi sumber pacengkadan. Umpamana wae dina  sejarah islam terutama masa dinasti Abbasiyah  nu Ibukotana harita di Baghdad boga sababraha potret konflik antar-bangsa. kapan sidik pisan aya kaijid (kateuresep) jeung kaceuceub ka bangsa Arab, sawangsulna etnis Arab ge ceuceub pisan ka non-arab, cindekna harita tumuwuh sikap ta’asshub(fanatisme anu berlebihan kana madzhab, etnis, jeung golongan). Hiji waktos panyair Ismail bin Yasar.ngumandangkeun sajak anu muji-muji raja-raja Persia, khalifah Hisyam bin abdul Malik anu notabeneetnis Arab anu harita ngadangukeun pembacaan sya’ir dumadakan  murka, ambek taya bandingna. Tuluy eta penyair ku para pengawal disiksa, diterebkeun kana cai, masih mending nyawana salamet.(v)

Kasang tukang seke seler (latar belakang suku) anu variatif yakin jadi hiji tantangan kanggo pamingpinna. Sanaos etnis sunda mayoritas, tetela aya sababaraha wilayah anu didominasi ku suku Jawa, terutama sapaparat Pantura. Katambih di sub-urban penyangga DKI anu notabene loba suku Betawi.  Masalah latar belakang etnik memang teu bisa dianggap remeh, Disintegrasi Yugoslavia jadisababraha nagara umapamana wae :Serbia, Montenegro, Bosnia, jeung kroasia kapan alesanna beda ageman ideologi, etnik, jeung cangkingan nilai-nilai spitritual agama.

Satuluyna kedah diwaspadai oge perkawis faktor Otonomi daerah (OTDA). Ngabalukarkeun Bupati jeung Walikota pak celegedeg ngawujud jadi raja-raja kecil dina karajaan besar. Lir ibarat lauk jaer, nyieun balong dina jero balong. Samalah bupati & walikota nu rada badung mah nalika dipanggil ku Gubernur teu ngawaro, pajarkeun “Kula ge sarua dipilih ku rakyat”, biasana nu kitu beda partey.Kiwari  hawar-hawar aya desakan pikeun mekarna kabupaten Tasikmalaya Selatan jeung Cirebon anumerejel hayang jadi hiji provinsi anu mandiri. Dugi ka danget ieu konflik kabupateun jeung kota tasik sesa pemekaran tahun 2001 oge kapan acan rengse sapinuhna. Pacogregan anu disengketakeun tiantawisna lapangan Dadaha jeung alun-alun. Numutkeun analisis harian Kompas (vi) kapan pemekaran Tasik kaasup pemekaran anu gagal. Daerah induk nyatana Kabupaten hengker pisan da sumberdayana terutama industri loba kacokot ku Kota. Tah lebah dieu OTDA ge ternyata bisa jadi hiji ancaman disintegrasi, lunturna persatuan jeung kesatuan.

Eksploitasi Sumber Daya Alam (Isu Lingkungan)

4 minggon ka pengker pribados mapay laut kidul, tetela  kerusakan alam sakitu mahabuna. Basisir laut kidul/ pantey selatan ciamis, Tasik , jeung garut yakin geus ruksak. Leuweungna ditebang, dibukbak, keusikna disedot jeung digali, loba torowongan jeung lomang sesa ngala keusik pasir besi. Nurutkeun sumber Kabar Priangan, cenah eta keusik pasir besi ti Tasik selatan teh dijual ka Cina. Di nagri Tirai bambu mah  hargana jadi  1000 lipet tina harga jual masyarakat ka Pengusaha . Kadituna eta pasir besi janten bahan baku pelapis pesawat ruang angkasa sabab kualitasna anu hebring taya tanding. Tapi mun ditalungtik pemasukan ka kas kabupaten jeung provinsi estu teu sabanding jeung biaya perawatan dan pemeliharaan jalan. Cindekna besar pasak daripada tiang.
Lebah dieu pisan pamarentah daerah nyatana provinsi katut kabupaten kudu sadar yen ulah saukur ngudag pendapatan asli daerah (PAD), produktivitas, growth jeung naon rupa  variable ekonomi , tapi kudu sadar yen tujuan pembangunan versi islam  nyaeta  rido Alloh, hiji kondisi anu ku Prof Naquib Al attas dibasakeun seja ngawujudkeun kamaslahatan ummat (rahayat).

Numutkeun penelitian Deni widhiatna aya fakta anu rada pikapaureun. Mantena nalungtik Pencemaran merkuri di sekitar tambang emas tradisional nu make  pengolahanna make  caraamalgamasi. Penelitian ieu teh diayakeun di wilayah kacamatan Cineam jeung Karang jaya (kidul ngetan ti Manon jaya) sentral penambangan emas di Tasikmalaya. Geuning Tina akibat proses dekomposisi ku bakteri, dina jero cai wahangan Teu tanggung tanggung eta merkuri anu kaangseu, jeung kadahar via media cai jeung udara mampuh ngaruntagkeun pertahanan sistem saraf otak.(vii)

Katambah kadaharan sapopoe masyarakat teu jauh tina pemanis sodium , paragi rasa gurih nganggo MSG (Vetsin) atuh beuki nongtoyod wae. Daharna jeung sambel tarasi anu hurangna make formalin, asinna pon kitu keneh make formalin, tuluy di vetsinan, sarengsena eta lajeng  ngabaso, ngandungboraks. Atuh lagu Iwan fals :Umar bakri nyiptakeun generasi otak habibie teh beuki jauh wae ukur sawangan, da Umar Bakriena sibuk demonstrasi  menta naek gaji, tuluy muridna kapan kurang gizi jeung faktor genetik teu menunjang.

Ruksakna  lingkungan alam teh gara-gara program pembangunan anu teu terkendali jeung loba ngadobrak prinsip nu geus aya saumpamana wae Rencana Tata Ruang wilayah, oge rea pisan proses perizinan anu dimanipulasi wabil khusus ngeunaan AMDAL (Analisis Mengenai dampak Lingkungan) sakumaha diamantkeun ku UU lingkungan Hidup. Asas umum penyelenggaraan Negara oge perlu diregepkeun, kasaksen dina  pasal 20 ayat 1 poin C UU pemerintah daerah (viii) eusina nyaeta asas kepentingan umum. Mun dihartian kalayan kacamata maqosid syar’iyah (tujuan-tujuan hukum syara) nyatana perlindungan kana kamanusaan jeung ayana maslahat manfaat teu nimbulkeun kamadaratan sok komo bencana kemanusiaan dina skala nu rohaka.

SOLUSI

Ceuk paningal pribados , yakin aspek persatuan jeung kesatuan mangrupa konci utama. Gubernur kudu bisa ngabina jeung ngamumule lembaga-lembaga pendidikan boh formal atawa non formal, margi yakin eta sadaya mangrupi potensi ageung dina raraga ngamajukeun roda pangwangunan. Perlu  nanemkeun nilai-nilai positif ka anak didik ngeunaan persatuan. Lajeng secara struktural Korps PGRI nu baheula diselewengkeun jadi alat hiji partey, ayeuna kudu boga manfaat anu optimal jeung jadi mitra strategis eksekutif. Lamun para guru teu soson-soson ngajar , atuh kualitas SDM di masa nu bakal datang tangtuna bakal nguciwakeun. Salajengna segi potensi pendidikan non formal, tiantawisna wireh di Jawa Barat aya 3845 pasantren (ix) Geuning pasantren ge lain leutik-leutik potensi. Sok komo Patronase (kapatuhan ka komandan) di pasantren kuat pisan. Lamun kiaina selaku pengasuh teu kacekel atuh santri katut rebuan alumnina oge bakal balagideur jeung barontak, tangtuna bisa ngahambat pangwangunan anu daria. Memang taktik ngadeukeutan pasantren tos diberjalankeun ku para kandidat. Mung hanjakal sabot kampanye wungkul . dina mangsa ngajabat mah lur wae teu aya perhatian maksimal. Lir ibarat ngadorong mobil mogok, sarengsena mobil maju anu ngadorong ditinggalkeun, paling saukur ngucap nuhun ngadadah/gugupay,ceuk kolot tea mah nu asih dipulang tai.

Di sagedengeun eta ulah hilap ka para minoritas, aya babasan kabeureuyan mah tara ku tulang nu gede, angger we ku cucuk anu leutik tur ipis, lebah dieu payus pisan mun kalangan agama minoritas jeung penganut kapercayaan oge dirangkul. Na aya kitu panganut kapercayaan? Estu matak ngajenghok reuwas saur DR Anton dosen pribados dina mata kuliah Sosiologi lulusan Leiden, jeung ibu Inge, cenah anu ngagem aliran kapercayaan “sunda wiwitan” utamana di wewengkon kuningan jeung Bandung  jumlahna kaetang rea nincek ratusan rebu. Ngan angger wae dibanding 49 juta padumuk jawa barat mah eta angka teh leutik.

Geubernur nu anyar kudu bisa ngarangkul sakumna kelompok boh pemangku adat, ulama, paguyuban guru, birokrasi, jeung pihak sejenna. Tiap daerah memang boga karakter anu beda umpamana di wilayah Tasik ajengan/ulama leuwih dihargaan tinimbang menak/birokrat. Sawangsulna wilayah Ciamis mah rereana di hiji kampung masyarakat teh leuwih madep jeung ajrih ka punduh jeung  lurah tibatan ka ajengan anu ngimaman di tajug.
Bentuk kongkritna terutami nu berhubungan sareng tuntutan pemekaran, Gubernur nu anyar dipiharep kedah tiasa meper, ngupahan jeung ngarayu masyarakat anu hayang misahkeun diri.sapuk eta  pemekaran teh karereanana teu efektif, ngan saukur ngalobaan gajiheun, nambahan waragad pagawe di Pemda. Tangtuna wae eta pangolo, jeung panyombo teh disartaan ku prakna mere sumbangan riil jeung pangwangunan, ulah saukur ilusi jeung harepan hampa.

Salajengna ngeunaan isu lingkungan (SDA):
Gubernur Jabar kudu boga visi anu jelas jeung terarah dina enggoning ngamumule kalestarian lingkungan alam. Gubernur boga peran sentral dina penyusunan UKL UPL oge AMDAL(x) supaya pelaku usaha teu sangeunahna nyieun lapangan usaha anu matak nimbulkeun pencemaran utamana kualitas air sungai jeung eksploitasi anu berpotensi nimbulkeun bencana abrasi sarta erosi. Mangga wae titenan antara 5 pasangan calon ieu naha papada mibanda program anu eces jentre masalah lingkungan, atawa ukur pupulasan, sok komo ari teu dimuat-muat acan mah isu lingkunganna.tangtuna urang miharep ulah dugi ka kaendahan walungan citarum jeung cikapundunganu diwawaas jeung dihaleuangkeun ku mang koko, nining meida jst, ayeuna tinggal kenangan, da geus salin rupa pinuh ku limbah rumah tangga jeung limbah pabrik tekstil.

Lamun kitu,  karakterisik pamingpin siga kumaha atuh anu bisa ngawujudkeun eta kondisi anu ideal di Jawa barat ?
Asana teu salah mung kembali kana konsep agami, terutami agama Islam, da Jawa barat teh memang secara prosentase pangonjoyna. Para ulama berdasar kana kalam ilahi jeung dawuhan Rosul, parantos ngadamel formula ngeunaan konsep pamingpin ideal nyaeta dina opat sifat anu wajib di hakna para Rasul:

Wawajibun fi haqqihimul amanah# wasidquhum wadlif lahul fathoonah.
Wamitslu dzaa tabliiguhum lima atauw #wayastahiilu dlidduhaa kama rowauw
Wajib dihakna para rosul amanah #jeung sidikna pek sipatan patonah
Sifat tablig wajib oge anjeun nyaho #mustahil lalawanana kade poho.(xi)

Sidiq: salah sahiji syarat ditarimana amal nyaeta sidqul qosdi, bener niat, boga motivasi anu hade lillahi ta’ala. Marga lantaran Muncul na hiji calon estu dorongan anu tanpa pamrih ti konstituen, lainnyogrog-nyogrog karep jeung boga motif anu teu hade. Keur dina mangsa pencalonan bisa ditingali tina rekam jejakna, kumaha manuver-manuver anu geus dijalankeun. Sidiq oge nyangkut kajujuran dina laporan kekayaan, asal-usul rundayan kulawarga kudu puguh saha bapana , saha indungna jrrd. Oge  riwayat pendidikan ulah nepikeun ka make ijazah palsu.

Amanah: nyaeta  wafa’ul ahdi, minuhan sanes kanten jangji wabil khusus salila kampanye, ngabogaan integritas, ngajauhan sagala rupi conflict of interest anu ngalibatkeun dirina katut kulawarga. Pamingpin anu amanah salawasna mentingkeun pamaksudan balarea lain pamaksudan jeung kapentingan pribadi.ulah dugikeun ka jangka panjang jeung jangka pendek eleh ku jang ka dapur.

Tabligh: pamingpin ulah sieun nepikeun anu haqq, nyebred anu bathil, kudu ngabiasakeuntumamprak, akuntabel, siap iraha wae datang nu marios ti KPK jeung lembaga sejen. Tuluy manehna ngaluluguan kana bebeneran, amar ma’rup nahyi munkar, ngokojoan efisiensi dina pamarentahan jeung ngadukung sapinuhna kana law enforcement(penegakan hukum).

Fathonah (boga inteligensi anu luhur, latar belakang akademik anu nyongcolang, jeung kompeten dina hiji widang . apal kana naon rupa isu aktual jeung paham kana akar pasualan.teu kalangkung pamahaman anu komprehensif ngeunaan aspek historis jeung wawasan geografis JABAR.  Ulah dugi keun ka apal ngan saukur cangkang bari teu paham jeroanana (diletantisme) (xii)

Ieu sifat anu opat teh tangtuna ulah diukur ngan tina jargon katut slogan, teu bisa ditaksir saukur via tampilan dohir jeung kesan agamis. Tapi nu leuwih utama nyaeta internalisasi nilai keagamaan , sakumaha ngadarah dagingna dina langkah eta tokoh sapopoe. Tangtuna bisa diukur tina kawijakan anu pernah dijalankeun, cindekna mah kudu ditingali sacara seksama rekam jejakna, pernah boga kalungguhan naon, tuluy kumaha kinerjana.

Ampun paralun  pribados sanes ngajago ngabahas ieu pasualan , atawa berpretensi  salaku pengamat, namung seja ngabuktoskeun kanyaah katut kapedulian ka lemah cai, banjar karang panineungan, nyatana Tanah Parahyangan. Shohabat kameumeut Rosul Sayyidina ali Karomallahu wajhah paratos cumarios: Min husnil mar’i ilmuhu bizamanihi= ukuran kahadean jeung rucitana hiji jalma nyaeta sejauh mana manehna paham kana  situasi jaman(jeung peduli lingkungan sekitar).Tangtos urang alim kasebat jalmi anu teu sae versi Sayyidina Ali . Malah Gusti Rosul pisan cumarios ngeunaan sikap cuek jeung acuh tak samodel kitu: sing saha anu gugah enjing-enjing bari teu aya kapedulian kana lingkungan masyakarakat sabudeureun , nu model kitu  estu teu kaasup umat kami, kitu saur mantena, na’udzubillahi min dzalik.

Sakieu rupina para mitra, mugi tiasa kawaler maksad judul ieu tulisan di luhur: narekah ngeunteung , malahmandar ngaraih untung maksadna ngeunteung kana kaayaan, ngeunteung jeung eling kana conto-conto piwuruk rasul, jalmi soleh, jeung rekomendasi sarta doktrin ti para ahli khususna pamarentahan geusan ngawujudkeun kahirupan anu untung:Jawa barat nu ngabogaan ajen inajen, subur makmur kartaraharja, Baldatun thoyyibatun Warobbun ghofuur.

Cag heula ah dugi ka dieu,

Pribados baris ngucapkeun Wilujeung nyumpingan TPS sarta nyoblos dina waktosna nyata ping 24 Februari 2012, mugia urang sadaya sehat wal afiat, lajeng Mugi gusti teu ngalolongkeun paningali lahir katut paningali batin urang samudayana aamiin !!!

CATATAN KAKI:
(i)        Majalah mingguan TEMPO, edisi cetak 18 November 2012
(ii)       kolom opini tabloid Olahraga TOP SKOR . kemis 22 November 2012
(iii)      Harian The Jakarta Post edisi cetak 10 November 2012
(iv)     Majalah minggonan Mangle edisi cetak  kemis 22 November 2012 halaman
(v)      Ahmad Amin, Duha’ul Islam, Dewan Bahasa & Pustaka , Kuala Lumpur,1978 hal.26
(vi)     Harian kompas edisi cetak kamis 22 November 2012
(vii)    Deni Widhiatna: pendataan penyebaran merkuri akibat usaha pertambangan emas di Tasikmalaya
(viii)   Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang pemerintahan Daerah
(ix)  Bagian Perencanaan dan Data Sekretariat Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Departemen Agama R.I.
(x)      UU Lingkungan Hidup nomor 32/2009
(xi)     Kitab Jauhar tauhid karangan syekh Ibrahim al Laqoni (wafat 1041/1631 M), bait 59 & 60. Syiiran versi sunda na kenging pribados, terbuka kanggo direvisi sareng nampi kritik.
(xii)     A Mangun Harjana, Isme-isme dari A sampai Z , Kanisius, Yogjakarta, 1997 hal.49

(rengse dianggit di Komplek Kost LAMBANG, Margonda Raya, Depok. Dinten Salasa kliwon wanci pasosore tereh maghrib, tabuh 17.30  27 November 2012, kaping 13 Muharram 1434 H)