Duuuh bingung.... ada yang tau gak dimana tempat menjual peralatan batik di jakarta? seperti canting, gawanggawangan, bandul, wajan, kompor, taplak, saringan "malam", mori, lilin "malam" dan pola?
Need help yang tau infonya boleh share disini yah
Showing posts with label Budaya. Show all posts
Showing posts with label Budaya. Show all posts
01 November 2015
Dimana tempat menjual peralatan batik di Jakarta?
18 June 2013
Menjaga Keseimbangan Alam Dengan Kearifan Lokal
Kampung
Naga adalah nama sebuah perkampungan di Kabupaten Tasikmalaya yang
tetap memegang teguh warisan nenek moyangnya(budaya sunda) dengan
menghindari arus modernisasi yang terus mengepung daerah di sekitarnya.
Daerah dengan hamparan hijau tanaman padi, gemericik air sungai yang
melintasi perkampungan, deretan hutan lebat yang masih terjaga dengan
baik, kicauan burung dan deretan rumah panggung beratapkan injuk menjadi
sebuah daya tarik tersendiri ketika kita mengunjungi perkampungan ini.
Di daerah ini, hanya terdapat sekitar 108 bangunan saja termasuk rumah
tinggal yang dihuni oleh penduduk kampung naga. Hal tersebut dikarenakan
di kampung naga ini tidak diperbolehkan
26 May 2013
Nasi Tutug Oncom Kuliner Khas Tasikmalaya
![]() |
| Nasi Tutug Oncom yang menggugah selera |
Sudah lama rasanya meninggalkan kota kelahiran Tasikmalaya. Sudah hampir 5 tahun saya meninggalkan kota ini. Kenangan 18 tahun hidup di Tasikmalaya tidak akan melebur begitu saja seiring hiruk pikuk dimana saya menyambung hidup sekarang. Hari ini 25 Mei 2013 pagi hari, saya pun tiba di kota ini. Waktu saya di Tasikmalaya sangatlah singkat karena siang esok harinya saya harus kembali meninggalkan kota ini. Jadi, momen 1,5 hari ini harus dimanfaatkan seoptimal mungkin. Dan satu hal yang tidak boleh dilupakan adalah mencicipi kulinernya. Sudah lama terbiasa dengan makan-makanan JUNK FOOD disetiap waktu makan, membuat lidah ini tergugah untuk kembali mencicipi makanan khas yang sudah lama tidak merasuk dicerna oleh tubuh (*lebay hehe). Jadi, sore hari setelah mengunjungi keluarga yang sudah lama tidak bertemu, saya dan keponakan memutuskan untuk pergi mencicipi kuliner khas Tasikamalaya yaitu Nasi Tutug Oncom.
Label:
Budaya,
Kabeh,
santai,
sunda,
Tasikmalaya
07 April 2013
Sono Ka Ema [ Carpon Basa Sunda]
Geus tara ngadéngé sora turaés atawa sora tonggorét nganteur surupna panon poé. Wanci sariak layung taya bédana jeung wanci carangcang tihang, mulan-malén kandaraan ngagerung sapaparat jalan. Estuning wanci geus teu bisa dibédakeun ku tanda-tanda alam. Nyaan, kaayaan hirup di kota jauh mela-melu jeung kaayaan hirup di lembur. Idek liher di lembur anu sakitu réhé comrék, tiis ceuli hérang mata. Cai cur-cor ngagenyas ngocor ti girang ka hilirkeun.
17 February 2013
[ Sharing ] Sistem Pendidikan di Jepang
> Anak saya bersekolah di salah satu Sekolah Dasar Negeri (SDN) kota Tokyo, Jepang. Pekan lalu, saya diundang untuk menghadiri acara “open school” di sekolah tersebut. Kalau di Indonesia, sekolah ini mungkin seperti SD Negeri yang banyak tersebar di pelosok nusantara. Biaya sekolahnya gratis dan lokasinya di sekitar perumahan.
>
> Pada kesempatan itu, orang tua diajak melihat bagaimana anak-anak di Jepang belajar. Kami diperbolehkan masuk ke dalam kelas, dan melihat proses belajar mengajar mereka. Saya bersemangat untuk hadir, karena saya meyakini bahwa kemajuan suatu bangsa tidak bisa dilepaskan dari bagaimana bangsa tersebut mendidik anak-anaknya.
>
> Melihat bagaimana ketangguhan masyarakat Jepang saat gempa bumi lalu, bagaimana mereka tetap memerhatikan kepentingan orang lain di saat kritis, dan bagaimana mereka memelihara keteraturan dalam berbagai aspek kehidupan, tidaklah mungkin terjadi tanpa ada kesengajaan. Fenomena itu bukan sesuatu yang terjadi “by default”, namun pastilah “by design”. Ada satu proses pembelajaran dan pembentukan karakter yang dilakukan terus menerus di masyarakat.
>
> Dan saat saya melihat bagaimana anak-anak SD di Jepang, proses pembelajaran itu terlihat nyata. Fokus pendidikan dasar di sekolah Jepang lebih menitikberatkan pada pentingnya “Moral”. Moral menjadi fondasi yang ditanamkan “secara sengaja” pada anak-anak di Jepang. Ada satu mata pelajaran khusus yang mengajarkan anak tentang moral. Namun nilai moral diserap pada seluruh mata pelajaran dan kehidupan.
>
> Sejak masa lampau, tiga agama utama di Jepang, Shinto, Buddha, dan Confusianisme, serta spirit samurai dan bushido, memberi landasan bagi pembentukan moral bangsa Jepang. Filosofi yang diajarkan adalah bagaimana menaklukan diri sendiri demi kepentingan yang lebih luas. Dan filosofi ini sangat memengaruhi serta menjadi inti dari sistem nilai di Jepang.
>
> Anak-anak diajarkan untuk memiliki harga diri, rasa malu, dan jujur. Mereka juga dididik untuk menghargai sistem nilai, bukan materi atau harta.
>
> Di sekolah dasar, anak-anak diajarkan sistem nilai moral melalui empat aspek, yaitu Menghargai Diri Sendiri (Regarding Self), Menghargai Orang Lain (Relation to Others), Menghargai Lingkungan dan Keindahan (Relation to Nature & the Sublime), serta menghargai kelompok dan komunitas (Relation to Group & Society). Keempatnya diajarkan dan ditanamkan pada setiap anak sehingga membentuk perilaku mereka.
>
> Pendidikan di SD Jepang selalu menanamkan pada anak-anak bahwa hidup tidak bisa semaunya sendiri, terutama dalam bermasyarakat. Mereka perlu memerhatikan orang lain, lingkungan, dan kelompok sosial. Tak heran kalau kita melihat dalam realitanya, masyarakat di Jepang saling menghargai. Di kendaraan umum, jalan raya, maupun bermasyarakat, mereka saling memperhatikan kepentingan orang lain. Rupanya hal ini telah ditanamkan sejak mereka berada di tingkat pendidikan dasar.
>
> Empat kali dalam seminggu, anak saya kebagian melakukan pekerjaan-pekerjaan rumah tangga. Ia harus membersihkan dan menyikat WC, menyapu dapur, dan mengepel lantai. Setiap anak di Jepang, tanpa kecuali, harus melakukan pekerjaan-pekerjaan itu. Akibatnya mereka bisa lebih mandiri dan menghormati orang lain.
>
> Kebersahajaan juga diajarkan dan ditanamkan pada anak-anak sejak dini. Nilai moral jauh lebih penting dari nilai materi. Mereka hampir tidak pernah menunjukkan atau bicara tentang materi. Anak-anak di SD Jepang tidak ada yang membawa handphone, ataupun barang berharga. Berbicara tentang materi adalah hal yang memalukan dan dianggap rendah di Jepang.
>
> Keselarasan antara pendidikan di sekolah dengan nilai-nilai yang ditanamkan di rumah dan masyarakat juga penting. Apabila anak di sekolah membersihkan WC, maka otomatis itu juga dikerjakan di rumah. Apabila anak di sekolah bersahaja, maka orang tua di rumah juga mencontohkan kebersahajaan. Hal ini menjadikan moral lebih mudah tertanam dan terpateri di anak.
>
> Dengan kata lain, orang tua tidak “membongkar” apa yang diajarkan di sekolah oleh guru. Mereka justru mempertajam nilai-nilai itu dalam keseharian sang anak.
>
> Saat makan siang tiba, anak-anak merapikan meja untuk digunakan makan siang bersama di kelas. Yang mengagetkan saya adalah, makan siang itu dilayani oleh mereka sendiri secara bergiliran. Beberapa anak pergi ke dapur umum sekolah untuk mengambil trolley makanan dan minuman. Kemudian mereka melayani teman-temannya dengan mengambilkan makanan dan menyajikan minuman.
>
> Hal seperti ini menanamkan nilai pada anak tentang pentingnya melayani orang lain. Saya yakin, apabila anak-anak terbiasa melayani, sekiranya nanti menjadi pejabat publik, pasti nalurinya melayani masyarakat, bukan malah minta dilayani.
>
> Saya sendiri bukan seorang ahli pendidikan ataupun seorang pendidik. Namun sebagai orang tua yang kemarin kebetulan melihat sistem pendidikan dasar di SD Negeri Jepang, saya tercenung. Mata pelajaran yang menurut saya “berat” dan kerap di-“paksa” harus hafal di SD kita, tidak terlihat di sini. Satu-satunya hafalan yang saya pikir cukup berat hanyalah huruf Kanji. Sementara, selebihnya adalah penanaman nilai.
>
> Besarnya kekuatan industri Jepang, majunya perekonomian, teknologi canggih, hanyalah ujung yang terlihat dari negeri Jepang. Di balik itu semua ada sebuah perjuangan panjang dalam membentuk budaya dan karakter. Ibarat pohon besar yang dahan dan rantingnya banyak, asalnya tetap dari satu petak akar. Dan akar itu, saya pikir adalah pendidikan dasar.
>
> Sistem pendidikan Jepang seperti di atas tadi, berlaku seragam di seluruh sekolah. Apa yang ditanamkan, apa yang diajarkan, merata di semua sekolah hingga pelosok negeri. Mungkin di negeri kita banyak juga sekolah yang mengajarkan pembentukan karakter. Ada sekolah mahal yang bagus. Namun selama dilakukan terpisah-terpisah, bukan sebagai sistem nasional, anak akan mengalami kebingungan dalam kehidupan nyata. Apalagi kalau sekolah mahal sudah menjadi bagian dari mencari gengsi, maka satu nilai moral sudah berkurang di sana.
>
> Di Jepang, masalah pendidikan ditangani oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Olah Raga, dan Ilmu Pengetahuan Jepang (MEXT) atau disebut dengan Monkasho. Pemerintah Jepang mensentralisir pendidikan dan mengatur proses didik anak-anak di Jepang. MEXT menyadari bahwa pendidikan tak dapat dipisahkan dari kebudayaan, karena dalam proses pendidikan, anak diajarkan budaya dan nilai-nilai moral.
>
> Mudah-mudahan dikeluarkannya kata “Budaya” dari Departemen “Pendidikan dan Kebudayaan” sehingga “hanya” menjadi Departemen “Pendidikan Nasional” di negeri kita, bukan berarti bahwa pendidikan kita mulai melupakan “Budaya”, yang di dalamnya mencakup moral dan budi pekerti.
>
> Hakikat pendidikan dasar adalah juga membentuk budaya, moral, dan budi pekerti, bukan sekedar menjadikan anak-anak kita pintar dan otaknya menguasai ilmu teknologi. Apabila halnya demikian, kita tak perlu heran kalau masih melihat banyak orang pintar dan otaknya cerdas, namun miskin moral dan budi pekerti. Mungkin kita terlewat untuk menginternalisasi nilai-nilai moral saat SD dulu. Mungkin waktu kita saat itu tersita untuk menghafal ilmu-ilmu “penting” lainnya.
>
> Demikian sekedar catatan saya dari menghadiri pertemuan orang tua di SD Jepang.
Label:
Budaya,
Kabeh,
santai,
serba-serbi
05 February 2013
Preventing KRL Accident in JABODETABEK
On may 20 in a sunny morning 3 years ago. A bunch of people near pondok cina station was shouting each other warned someone who was crossing railway. A last year student hit by KRL. She was a good student, smart and she was waiting for her graduation.
She was, however, running without looking around, and she was using a headset. The 22 years old student was returning from a computer rent across campus in Depok, and then she was hit by KRL with severe injuries. This last year student is my senior in campus. Nowdays, she left a memory and wishes in campus, a wishes that she will graduate from university as bachelor degree.
Unfortunately, tragic KRL accident involving pedestrian are much too common in all part of the Jabodetabek. After researching the subject for my speech, I have come to conclusion as the ministry of transportation. That the best way to prevent such accident is to build underpass.
I know that solution will be so expensive and perhaps will cause severe traffic and inhibit your dialy activites, but I ask you to listen with an open mind while we discuss some of the problems associated with pedestrian victims, the major causes of the problems, and a plan that will help solve the problem.
No matter how one looks at the evidence, it all leads to one fact. there are too many KRL accident, injuries, and death involving pedestrian. According to the police data 2012 of Depok resort. Accident cause by crossing the railway increase 40% from preceeding year. Last year alone 30 people were killed in KRL accident involving pedestrian in Depok, almost exactly the number of one class student in my campus.
Evidence also show that train accident throughout Indonesia was dominated at the train crossing. According to Jakarta Transportation Board, train crossing have the highest percentage of accident place in Indonesia, that is 60%.
Now that we've seen the extent of the problem, we can explore its causes one of the causes is earphone. Remember my senior accident at the beginning of my speech? there was an earphone on her neck after the accident. Due to a lot of accident involving earphone, head of public relation of KAI , area operation 1, Mateta Rizalulhaq, asked that do not use an earphone or headset near the railway because you will not hear a warning from KRL and people around you.
A second causes is revealed by distraction research. We all know what it is like when addicted with smartphone, BBM chat pingging, notification of social media appearing, user smiling and have a good time. The problem is all these factors create distraction. A new study, published online in the journal Injury Prevention, warns that distracted walking is quickly becoming jus as much of a hazard as distracted driving. The reasearchers found that texting while crossing the street or railway was the riskiest activity, with pedestrians four time more likely to ignore oncoming traffic and disobey traffic signal while checking their devices. The study also found that texters took much longer to cross a street than those who do not text while doing the same task.
A third causes is hurrying factor, in 2007 Transport Safety Victoria conduct a study into pedestrian behaviour at level crossings. Findings show 18-25 year olds are most likely to cross the tracks when a train is coming, out of the age groups surveyed. and the crossings also most likely to be influenced by factors such as hurrying.
So the extent of the problem is clear, and so is causes, what steps can we take to help bring about a solution?
First, building underpass for KRL in Jabodetabek. Besides avoid pedestrian, it also will reduce the traffic near doorstop or crossings
Second, Law policy to restrict using smartphone or earphone near railway and street. If one is using it, then they will be punished. Hence, there must be a responsible officer to arrest people who violate the policy and will standby at certain points in crossings
Third, set up crossing sign, increase doorstop crossing those who haven't and crossing just permitted in legal railway crossings
Now I know all of this might sound harsh and inconvenient, but the evidence is clear that it would save a significant numbers of lifes. Everyone in this room has felt to be graduated student, But my senior in campus still left a wishes, can you imagine if you are a parent of this last year student?
There is no way to solve all the problems we encounter on the railway, but we can do something to help save the lifes of people and make the railway safer for all of us. As I said earlier, this might sound harsh or inconvenient. But I know my senior in campus would gladly trade both for the chance to life again
I know that solution will be so expensive and perhaps will cause severe traffic and inhibit your dialy activites, but I ask you to listen with an open mind while we discuss some of the problems associated with pedestrian victims, the major causes of the problems, and a plan that will help solve the problem.
No matter how one looks at the evidence, it all leads to one fact. there are too many KRL accident, injuries, and death involving pedestrian. According to the police data 2012 of Depok resort. Accident cause by crossing the railway increase 40% from preceeding year. Last year alone 30 people were killed in KRL accident involving pedestrian in Depok, almost exactly the number of one class student in my campus.
Evidence also show that train accident throughout Indonesia was dominated at the train crossing. According to Jakarta Transportation Board, train crossing have the highest percentage of accident place in Indonesia, that is 60%.
Now that we've seen the extent of the problem, we can explore its causes one of the causes is earphone. Remember my senior accident at the beginning of my speech? there was an earphone on her neck after the accident. Due to a lot of accident involving earphone, head of public relation of KAI , area operation 1, Mateta Rizalulhaq, asked that do not use an earphone or headset near the railway because you will not hear a warning from KRL and people around you.
A second causes is revealed by distraction research. We all know what it is like when addicted with smartphone, BBM chat pingging, notification of social media appearing, user smiling and have a good time. The problem is all these factors create distraction. A new study, published online in the journal Injury Prevention, warns that distracted walking is quickly becoming jus as much of a hazard as distracted driving. The reasearchers found that texting while crossing the street or railway was the riskiest activity, with pedestrians four time more likely to ignore oncoming traffic and disobey traffic signal while checking their devices. The study also found that texters took much longer to cross a street than those who do not text while doing the same task.
A third causes is hurrying factor, in 2007 Transport Safety Victoria conduct a study into pedestrian behaviour at level crossings. Findings show 18-25 year olds are most likely to cross the tracks when a train is coming, out of the age groups surveyed. and the crossings also most likely to be influenced by factors such as hurrying.
So the extent of the problem is clear, and so is causes, what steps can we take to help bring about a solution?
First, building underpass for KRL in Jabodetabek. Besides avoid pedestrian, it also will reduce the traffic near doorstop or crossings
Second, Law policy to restrict using smartphone or earphone near railway and street. If one is using it, then they will be punished. Hence, there must be a responsible officer to arrest people who violate the policy and will standby at certain points in crossings
Third, set up crossing sign, increase doorstop crossing those who haven't and crossing just permitted in legal railway crossings
Now I know all of this might sound harsh and inconvenient, but the evidence is clear that it would save a significant numbers of lifes. Everyone in this room has felt to be graduated student, But my senior in campus still left a wishes, can you imagine if you are a parent of this last year student?
There is no way to solve all the problems we encounter on the railway, but we can do something to help save the lifes of people and make the railway safer for all of us. As I said earlier, this might sound harsh or inconvenient. But I know my senior in campus would gladly trade both for the chance to life again
12 September 2012
Indonesia's Cultural Heritage
Halo guys today I'll tell you about Indonesia's cultural heritage, it kind of ancient relics. Hence, let's continue to describe all of them guys. I take the description from the book guide of Museum National when I joined in Goodwill International in Mizuo Hara Orientation days. Well actually there are a lot of things that I didnt know before about how many heritage that Indonesia has. Well let's start to know about our heritage from the west of Indonesia that is Sumatra
Detail: 16th-17th c.
Origin: Lampung, South Sumatra
Material : Wood
Size: h. 169cm: w. 193 cm
Museum Ref: 610/century of aisle
Description about it:
This beautifully carved panel is decorated with a face motif to symbolise authority and to act as an amulet against misdeeds. The dragons on the left and right hand sides symbolise power, the long-tailed bird represent wealth and the fish is a sign of fertility. This exhibit was used as a throne-back during ceremonies to appoint a new ruler. The motifs also represent the life of the ruler.
2. Sertali
Detail: Acquired in 1950
Origin: Batak Karo, North Sumatra
Material: glided silver; cotton
Size: 1.85 cm: w 15 cm
Museum Ref: 26677 c
Display Case: XX
The Karo Batak people are unique among the Batak tribes in that they still use traditional forms of jewerlly. Sertail is a headdress ornament, worn by aristocratic Karo Batak brides. The sertali is made up of pieces shaped like buffalo horns and motifs from Karo Traditional houses. It is then mounted on plaited red cord and worn on the head on top of textiles, edged with metallic spangles. These are called pilo pilo and represent hospotality. In the past, sertali were sometimes used by the Karo shamen in healing rituals.
----- to be continued ya guy------
09 September 2012
A Brief History Of Indonesia and Its Cultural Origins
At a time when most of Indonesia was still attached to the rest of Asia, and Europe was under ice, Java was one of the first places in the world that was inhabited by man. Fossils found in 1891 along the Solo River in East Java indicated that Homo Erectus had been an ape-like man, who had walked upright and lived in Indonesia almost a million years previously. Homo Erectus initially had a nomadic existence but gradually became more social and established settled communities. Over a period of time these communities planted and harvested crops rather than foraging for berries on a daily basis. Equipment for daily survival became more sophisticated, and by the Mesolithic Period the basis stone axes of Paleolithic Age had made way for better cutting tools and the selection of stones for specific jobs. With the onset of the Neolithic Age, improved tools allowed man to carve wooden utensils, statues and canoes, as well as experimenting with different mediums such as basketry, textiles and poetry.
Indonesia's Metal Age started later than other Asian civilisations, begining with a combined Bronze and Iron Age. It had a huge impact on people's lives: metals were easy to shape, durable and colourful, and enabled man to accomplish tasks faster than ever before. He become more prosperous due to improved tools, which made tasks like cultivating crops easier, and began to focus more on religion.
Besides animist beliefs, man worshipped his ancestors. He believed in offering his most prized possessions to his god and his ancestors, and he concentrated on making these offerings as perfect as possible. During this era, man took to the sea and learnt to navigate by the stars, The first guilds were set up - groups of artists in the same field, such as potters, weavers, gold, and silversmiths, who worked for the community and their ruler. Who was believed to be the personification of the gods.
The period between 1292 and 1398 is considered the Golden Age of Indonesia history when the Majapahit Empire, a Hindu-Budhist kingdom, ruled supreme and was the first kingdom to come to close to Indonesia unification. The Majapahit controlled all the ports around the Java Sea and enggaged in lucrative seaborne trade. Although Indonesia continued to interact with other countries, it was during this time that Indonesia began to display indigenous forms of art and culture.
Each region had its own cultural characteristics depending on the intensity of a particular influence. However, there were three customs common to all areas of the archipelago: the chewing of betel leaves, the weaving textiles and jewellery design. The quality of betel-leaf containers and jewellery indicated the social status of the owner while both jewerelly and textiles were attributed with special powers, such as the ability to ward off evil spirits.
Muslim traders had long visited Indonesia shores, but it was not until the 14th century, when these followers of Mohammed considerably expanded their trade, that Islam spread to Sumatra and Java. It is believed that a desire for trade, wealth and power motivated the Hindu rulers in Java to convert to Islam, and tha once they change their religion, their subject followed suit. By the end of the 15th century, there were 20 Muslim kingdom in Indonesia, and around 90% of Indonesians are of this religious denomination today.
Portuguese mariners were the first Europeans to set foot in Indonesia, making a strong impact on the eastern regions and imposing their Christian beliefs and their language on the natives. They were not interested in territorial expansion but concentrated on acquiring lucrative commodities for export back to Europe. However, the impression the Portuguese made on the archipelago also remains to this day: Christianity is stll prevalent in some eastern provinces and many Malay/Indonesia words are Portugese in origin.
By the late 16th century, Dutch traders had reached Indonesia and they soon gained a firm foothold in the archipelago. The Dutch-East Indies corporation, or the Verenigde Oost-Indische Compagnie (VOC), was set up to prevent competition between rival Dutch companies, and its directors gave themselves exclusive rights to trade, build ports and forts, and make laws in Indonesia. The Dutch were gradually able to subdue Indonesian dynasties, who were constantly at war with one anothe, and they built strategic, fortifiled, trading post, which enabled them to sink any foreign vessel that entered Indonesian waters. Due to corruption and mismanagement, the VOC was bankrupted in 1799.
In 1811, Thomas Stamford Raffles, the Englishman who founded Singapore, mounted an attack on Java and seized power. He was made Lieutenant-Governor of the island when he was only 31, and become very involved in documenting the history and culture of Indonesia, about which he was highly enthusiastic. However, after Napoleon's defeat at Waterloo, the English shifted their focus to Singapore and the Indonesia islands were handed back to the Dutch, Who eventually established control of the entire archipelago.
Life was oppresive for the majority of Indonesia under Dutch colonial rule and when the better. The Japanese invaded in 1942, the people believed that their fortunes had taken a turn for the better. The Japanese occupation helped to futher Indonesia's nationalist movement. When Japan surendered at the end of the Second World War, Indonesia was able to proclaim its independence on 17 August 1945.
A new era for Indonesia thus began with the creation of national flag, merah putih (red and white) and the implementation of the national motto "Bhineka Tunggal Ika" ( Unity in Diversity).
-----continued ya guys----
By the late 16th century, Dutch traders had reached Indonesia and they soon gained a firm foothold in the archipelago. The Dutch-East Indies corporation, or the Verenigde Oost-Indische Compagnie (VOC), was set up to prevent competition between rival Dutch companies, and its directors gave themselves exclusive rights to trade, build ports and forts, and make laws in Indonesia. The Dutch were gradually able to subdue Indonesian dynasties, who were constantly at war with one anothe, and they built strategic, fortifiled, trading post, which enabled them to sink any foreign vessel that entered Indonesian waters. Due to corruption and mismanagement, the VOC was bankrupted in 1799.
In 1811, Thomas Stamford Raffles, the Englishman who founded Singapore, mounted an attack on Java and seized power. He was made Lieutenant-Governor of the island when he was only 31, and become very involved in documenting the history and culture of Indonesia, about which he was highly enthusiastic. However, after Napoleon's defeat at Waterloo, the English shifted their focus to Singapore and the Indonesia islands were handed back to the Dutch, Who eventually established control of the entire archipelago.
Life was oppresive for the majority of Indonesia under Dutch colonial rule and when the better. The Japanese invaded in 1942, the people believed that their fortunes had taken a turn for the better. The Japanese occupation helped to futher Indonesia's nationalist movement. When Japan surendered at the end of the Second World War, Indonesia was able to proclaim its independence on 17 August 1945.
A new era for Indonesia thus began with the creation of national flag, merah putih (red and white) and the implementation of the national motto "Bhineka Tunggal Ika" ( Unity in Diversity).
-----continued ya guys----
25 July 2012
Indonesia - Philippines Youth Cultural Exchange Program
Jleeb Eventually -> went back to Indonesia on July 17, 2012 After spent a precious experience in Manila, Quezon City, and Laguna. A great moment in Philippines (The Jose Rizal's Country). I left Jakarta on sunday night, July 8, by Cebu Pacific Airlines. There, in Ninoy Aquino Airport, Manila, Gia picked us up from the airport to dormitory in Ateneo de Manila University located in Quezon City. "Yeyeyeyyyyy" was Gia's tagline whom I always remember :D because she often yelled it in any occasion xixixixixi.
This was what we did in Manila, we arrived and left Manila through Ninoy Aquino International Airport, according to filipino, Ninoy was a name to be dedicated for a politician in Philippines
Then, we learnt about Arnis, a traditional martial art from Philippines. Arnis was a weapon based fighting with rattan stick. This was a photo of us, in the middle was our arnis's teacher ( I forgot the name xixixix)
adasdsadsad
Tinikling dance was a famous traditional dance in philippines by sliding bamboo poles on the ground then dances step over and in between the poles in a dances and I think it's very similiar with one dance in Indonesia by sliding bamboo poles . And this was the picture of me paired with echa.
This was what we did in Manila, we arrived and left Manila through Ninoy Aquino International Airport, according to filipino, Ninoy was a name to be dedicated for a politician in Philippines
| Ninoy Aquino International Airport, Manila with Rami Amer |
| Arnis, a traditional martial art from philippines, me on the right side |
| Tinikling dance, a Philippines dance |
| Jeepney, a public transportation in Philippines |
![]() |
| mixing cement with Rogate |
In another days, we had an opportunity to visit Jose Rizal's House, Jose Rizal is a national hero from Philippines. Hence, if you came to Philippines, You would find a writing about Jose Rizal included a name of several building.
| In front of Jose Rizal's House with Samuel |
| Jose Rizal home page with Sam, West, Gia, Arvin, James and Wari |
| in Pandin Lake with Cyuta, Wari, Rogate and Wara |
| Discussing about Indonesia - Philippines relationship, me in right side closed to Pak Kris |
| taking photo in front of Indonesian Embassy with Pak Kris and staffs |
Then we went to Jose Rizal monument and took several photos there.
| In front of Jose Rizal's statue |
| In front of museum with tiurma and verliani |
| After shopping in front of mall of asia |
| Class room in ateneo de manila university |
| We represented Bali, Lombok, Sunda, and Batak at Cultural Show |
| All delegation and committee from Indonesia and Philippines |
That's all about our journey to promote Indonesian Culture in Philippines
02 June 2012
Papua, land of The Eternal Snow in Indonesia
Wooooa this is Papua, Indonesia Guys!!!! tereng tereng.......
PAPUA.......
Virgin earth barely touched by strangers hands....
It is a rare, uncut jewel of the east that holds the grandeue of snow-capped peaks standing sentinel over mist shrounded valleys.
Tribe that rule guard the mighty land, faithfully adhering to old tribal arts, customs and traditions.
| These are Papuanese with their traditinal culture |
![]() |
| The Cendrawasih the unique and beautifull birds from Papua |
![]() |
| A beautifull place of Raja Ampat Islands, Papua |
| Whilesahrk which live in Papua sea |
| Buah Naga is the fruits from Papua |
Hope you would like papua, Indonesia!!!
Discover Indonesia: Batik and Tenun of Indonesia
When you type the word "batik" in the internet search engine, you would found a lot of description related "batik" and "Indonesia". Some archaeologists in their research paper
stated that batik is one of the local genius of the Indonesian people. It means that batik originality is from Indonesia which in the year 2009 has been added to the UNESCO world's heritage list.
It was on October 2, 2009 when UNESCO designated Indonesian batik as a Masterpiece of Oral and Intangible Heritage of Humanity. As part of the acknowledgement UNESCO insisted that Indonesia preserve the heritage.
The word of "batik" itself came from Javanese (one of the ethnic group in Indonesia) words "amba" (to write) and "titik" (dot or point). It is the method of dyeing a fabric by which parts of the fabric not intended to be dyed are covered by removable wax.
To make a batik, selected areas of the cloth are blocked out by brushing or drawing hot wax over them, then the cloth is then dyed. The parts covered in wax resist the dye and remain the original colour. This process of waxing and dyeing can be repeated to create more elaborate and colorful designs. After the final dyeing the wax is removed and the cloth is ready for wearing or showing.
From historical sources, the archaeologists found batik design at the temple relief, wayang (The Indonesian traditional puppet), and on palm leaves. Some sources said that batik already known around 6th or 7th century A.D. and devel-oped in the 14th century in the period of Majapahit Kingdom in Java. Although the "proof" artifacts were dated from the 18th centuries, from the period of Mataram Sultanate.
Batik no doubt was the most popular textile and cloth from Indonesia. But, there are many traditional textiles found in Indonesia. It was because Indonesia is the largest archipelago country in the world. More than 17,000 islands scattered along the 4,800 kilometers between Asia and Australia. Therefore, Indonesia has the largest diversity of art and culture in the world, including the traditional textile and clothing.
28 February 2012
Ngemutan Tasikmalaya Jaman Baheula Kaca Ka hiji
Label:
Budaya,
Indonesia,
Kabeh,
Manonjaya,
santai,
serba-serbi,
sunda,
Tasikmalaya
03 February 2012
30 November 2011
UMKM Budaya Bagian III
Sebelum membaca bagian III silakan baca dulu bagian II disini
Oleh Cevi Agis
Langkah terakhir untuk
memperluas pangsa pasar dapat memanfaatkan perkembangan teknologi informasi.
Pemerintah daerah perlu membuat pusat UMKM budaya berbasis web sebagai tindakan
modernisasi teknologi untuk memperkuat pondasi ekonomi rakyat. Supaya lebih
efektif diharapkan setiap kecamatan di daerah memiliki pusat UMKM budaya berbasis
web ini, namun mengingat
daerah di-
Indonesia tidak semua mendapatkan akses
internet yang memadai pusat UMKM budaya berbasis web cukup ditingkat kabupaten
atau kota saja. Sehingga dengan pemanfaatan teknologi informasi ini UMKM
berbasis budaya kita dapat merambah pasar global sehingga memungkinkan mendapat
peluang untuk melakukan ekspor produk kita keluar negeri. Kita ambil contoh
toko buku kecil amazon yang sekarang berhasil menjadi raksasa perusahaan buku
yang termashur dikarenakan mamanfaatkan teknologi informasi dalam mengembangkan
usahanya. Dan masih banyak lagi cerita dibalik kesuksesan suatu usaha karena
memanfaatkan perkembangan teknologi informasi dengan bijak dan tepat.
Sebagaimana diketahui
peran Usaha, Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) dalam perekonomian bangsa sangat
penting dan strategis. Hal tersebut terbukti pasca Indonesia mengalami krisis
moneter, sektor UMKM-lah yang menjadi penyelamat perekonomian dan menjadi
penyedia lapangan pekerjaan4. Oleh karena itu, Indonesia yang
memiliki kekayaan produk budaya yang sangat luar biasa banyak dan sangat
potensial, membutuhkan dukungan nyata pemerintah. Jika sektor ini ditindaklanjuti
secara serius, maka akan meningkatkan pertumbuhan perekonomian bangsa5.
Kemajuan UMKM berbasis budaya berarti kemajuan bagi perkembangan budaya
Indonesia, oleh karena itu diharapkan dengan berkembangnya UMKM berbasis budaya
ini dapat menumbuhkan kemandirian bangsa agar dapat terlepas dari jeratan
konsumerisme pasar bebas.
4Aries Musnandar
- pada tanggal Senin, 07 Februari 2011 10:40 WIB
USAHA Kecil dan
Menengah (UKM) di Indonesia yang semula dipandang sebelah mata akhirnya
terbukti muncul sebagai penyelamat perekonomian Indonesia pada waktu krisis
ekonomi menerjang.
5www.depkop.go.id,
Menurut Guritno Kusumo seusai menghadiri pertemuan UKM Asia Tenggara di Kuala
Lumpur, Malaysia " ke depan potensi UKM dari Asia Tenggara akan menjadi
kekuatan ekonomi yang akan diperhitungkan dunia internasional".
Daftar Pustaka
Bappeda.jabarprov.go.id. Rancangan Rencana Pembangunan Jangka
Menengah Provinsi Jawa Barat 2008-2013.[waktu akses 14.49 WIB pada hari
kamis, 20 Oktober 2011]
Depkop.go.id. UKM Asean
simpan kekuatan besar, Rl-lndia sepakat kerja sama promosi.
[waktu akses 12.30 WIB pada hari kamus, 20 Oktober 2011]
Tampubolon, Robert. Pengertian dan Ruang
Lingkup Lembaga Keuangan Masyarakat. http://mitrateladan.org.
[waktu akses pada 15.00 WIB pada hari kamis, 20 Oktober 2011]
www.mediaindonesia.com.
Peran Pemerintah untuk Pengembangan UKM
oleh Aries Munandar. [waktu akses pada 15.10 WIB pada hari kamis, 20 Oktober
2011]
UMKM Budaya Bagian II
Sebelum membaca bagian II silakan baca dulu bagian I disini
Oleh Cevi Agis
Setelah UMKM berbasis
budaya mulai tumbuh, langkah kedua yang dapat pemerintah daerah galakan adalah
mencanangkan program peningkatan daya beli masyarakat daerah. Kita ambil contoh
daerah yang laju ekonominya signifikan setiap tahunnya yaitu Jawa Barat, namun
sangat disayangkan bahwa di daerah Jawa Barat masih banyak masyarakat berada
pada garis kemiskinan. Hal tersebut dapat dilihat dari Indeks Daya Beli (IDB)2
Jawa Barat yang tergolong biasa(rendah) hanya 60,90 pada tahun 2007. Pendapatan
merupakan ukuran untuk melihat sejauh mana peningkatan daya beli masyarakat. Oleh
karena itu, tahap awal peningkatan daya beli adalah dengan memasukan muatan
lokal berbasis budaya seperti pembuatan batik Garut, pembuatan payung geulis
Tasik dan muatan lokal berbasis budaya lain di setiap sekolah yang ada di daerah.
Sehingga hal tersebut dapat menjadi bekal bagi siswa-siswa jika ingin membuka
usaha setelah lulus nanti sekolah. Untuk masyarakat sendiri, pemerintah dapat
memberikan akses permodalan termasuk pembinaan dan pelatihan yang dilakukan
secara terstruktur tentang bagaimana membuka usaha berbasis budaya dan memiliki
keahlian-keahlian dalam membuat produk budaya asli Indonesia. Selain permodalan
langsung dari pemerintah daerah, pemerintah daerah juga dapat memanfaatkan
fasilitas LKM/LKMS3 (Lembaga Keuangan Mikro/ Lembaga Keuangan Mikro
Syariah) untuk menggerakan masyarakat. Pemerintah daerah dapat memberikan
sosialiasi kepada masyarakatnya bagaimana untuk memanfaatkan LKM/LKMS ini dalam
memulai atau mengembangkan sektor UMKM berbasis budaya mereka karena LKM/LKMS
ini dapat menjadi salah satu alternatif untuk mengatasi keterbatasan biaya.
Langkah terakhir untuk
memperluas pangsa pasar dapat memanfaatkan perkembangan teknologi informasi.
Pemerintah daerah perlu membuat pusat UMKM
2bappeda.jabarprov.go.id, Kondisi dan tantangan ekonomi Jawa Barat
adalah rendahnya Daya Beli
Masyarakat(IDB) tahun 2007 60,90 dengan PPP RP 623.526,-
3LKM kepanjangan
dari Lembaga Keuangan Mikro. Ada 2 jenis LKM itu Bank dan Non-Bank. Contoh Bank
adalah BPR, BRI Unit, BKD (badan kredit desa) dan UMKM Mandiri. Contoh Non-Bank
adalah KSP( Koperasi Simpan Pinjam), LDKP (Lembaga dana dan kredit perusahaan)
dan LSM.
Untuk melanjutkan silakan klik disini
Untuk melanjutkan silakan klik disini
UMKM Budaya Bagian I
Usaha Pengembangan Sektor Usaha
Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) Berbasis Budaya dalam Menghadapi Pasar Global
Oleh Cevi Agis
Proses globalisasi yang
ikut melahirkan perdagangan bebas, berpengaruh besar terhadap keadaan ekonomi
dunia. Dengan diberlakukanya perdagangan bebas sebagai hasil dari kerja sama
antar negara, membuat Indonesia harus aktif dan kreatif dalam mengelola sektor
Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) yang rentan terhadap persaingan
perdagangan bebas1. Indonesia yang memiliki beragam budaya harus
bisa memanfaatkannya sehingga UMKM berbasis budaya menjadi sektor andalan di
masa depan. Payung geulis salah satu UMKM industri kreatif berbasis budaya yang
menjadi produk kebanggaan warga Kota Tasikmalaya misalnya, hanya akan menjadi
sebuah cerita jika tidak mampu bersaing dengan pedagang dari luar. Agar payung
geulis dan UMKM berbasis budaya lainya tetap terjaga dan mampu bersaing
diperlukan perhatian khusus dari pemerintah khususnya pemerintah daerah supaya
industri berbasis masyarakat ini menjadi produk unggulan yang dapat diandalkan.
1VIVAnews -
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyatakan Indonesia menyambut Tahun
Baru 2010 dengan sebuah tantangan berat. Departemen Keuangan, khususnya jajaran
Bea dan Cukai, per 1 Januari 2010, akan ditantang perdagangan bebas (FTA)
ASEAN
Untuk melanjutkan klik disini
26 November 2011
Pemenang Mojang Jajaka Jawa Barat 2011
Berikut adalah juara-juara / pemenang / pinilih dari Pasanggiri Mojang Jajaka Jawa Barat 2011 yang diselenggarakan di Bandung, Jawa Barat :
Jajaka Pinilih Jawa Barat 2011 Goes To Kabupaten Bekasi a.n Lucky
Mojang Pinilih Jawa Barat 2011 Goes To Kota Sukabumi a.n Mentari
Jajaka Wakil 1 Jawa Barat 2011 Goes To Kota Bandung a.n Ihsan
Mojang Wakil 1 Jawa Barat 2011 Goes To Kabupaten Karawang a.n Riedzka
Jajaka Wakil 2 Jawa Barat 2011 Goes To Kabupaten Kuningan a.n Agis
Mojang Wakil 2 Jawa Barat 2011 Goes To Kabupaten Subang a.n Tresia
Jajaka Harapan 1 Jawa Barat 2011 Goes To Kota Cianjur a.n Syahrul
Mojang Harapan 1 Jawa Barat 2011 Goes To Kota Depok
Jajaka Harapan 2 Jawa Barat Goes 2011 To Kota Bogor
Mojang Harapan 2 Jawa Barat Goes 2011 To Kabupaten Cianjur a.n Putri
Jajaka Harapan 3 Jawa Barat Goes 2011 To Kabupaten Subang a.n Fahmi
Mojang Harapan 3 Jawa Barat Goes 2011To Kabupaten Tasikmalaya a.n Sinta
Gelar Lain
Jajaka Kameumeut Jawa Barat 2011 Goest To Kabupaten Sumedang a.n Ilham
Mojang Kameumeut Jawa Barat 2011 Goest To Kabupaten Purwakarta a.n Marsha
Jajaka Gendes Jawa Barat 2011 Goest To Kabupaten Cirebon a.n
Mojang Kewes Jawa Barat 2011 Goest To Kabupaten Bekasi a.n Rika
Jajaka Mimitran Jawa Barat 2011 Goest To Kabupaten Purwakarta a.n Zainal
Mojang Mimitran Jawa Barat 2011 Goest To Kota Banjar a.n Reni
28 August 2011
Tidak Ada Yang Salah Dengan Kata Ganti Elo dan Gue
Hmm...kata ganti "elo" dan "gue" nampaknya sudah semakin universal saja di negara tercinta ini. Tidak hanya di daerah basis betawi saja, diluar daerah betawi pun bahasa "gue" dan "elo" akan dapat sering kita dengar apalagi dikalangan remaja ababil termasuk saya ini hihihi. Saya juga termasuk orang-orang yang menggunakan kata ganti "elo" dan "gue" sejak memasuki perkuliahan untuk saling berkomunikasi dengan teman-teman kuliah, karena penggunaan kata ganti "elo" dan "gue" ini bisa mengakrabkan kita sesama pendatang sebagai bahasa pergaulan. Tapi saya juga selalu bisa memposisikan diri, kapan saya harus menggunakan kata ganti "elo" dan "gue", "kamu" dan "aku/saya", atau menggunakan basa Sunda seperti "abdi/abi" dan "silaing/maneh". Saya menggunakan kata ganti "elo" dan "gue" biasanya pada teman-teman tertentu saja, menggunakan kata ganti formal sesuai EYD ketika dalam forum-forum resmi dan selalu berusaha menggunakan bahasa daerah ketika bertemu dengan orang-orang sedaerah saya.
Yang paling membuat saya kesal adalah ketika ada seseorang yang tidak bisa memposisikan dirinya dalam menggunakan sebuah bahasa/kata ganti dalam suatu forum tertentu. Hal inilah yang membuat saya memposting artikel ini sebagai unek-unek hahahaha. Dimana sebelumnya dalam sebuah forum paguyuban berbasis daerah ada seseorang yang mengirimkan wall dan saling berkomentar ria dengan asyiknya menggunakan kata ganti "elo" dan "gue" dimana kata ganti tersebut terlalu tabu digunakan untuk sebuah forum paguyuban kedaerahan seperti ini. Kalau komunikasi dengan bahasa Indonesia sesuai EYD sih masih wajar kadang dicampur bahasa Indonesia dan daerah dalam melakukan komunikasi dalam lingkup paguyuban tapi menggunakan kata ganti yang wajar. Alih kode wajarlah daripada tidak sama sekali. Dan baru kali ini ada anggota baru paguyuban tapi langsung berkomunikasi dengan kata-kata 'cool' dengan kata ganti "elo" dan "gue", sontak saya pun merasa sedikit terganggu. Yah, tapi mungkin karena anak baru dengan darah muda yang masih segar dan membara makanya merasa sangat bangga dengan menggunakan kata ganti "elo" dan "gue" dalam lingkup apapun. Namanaya juga anak baru kali ya.
Dan saya pun sempat menyinggung anak-anak baru ini hanya sekedar untuk mengingatkan agar jangan lupa dengan bahasa daerah bukan untuk melarang menggunakan kata ganti "elo" dan "gue". Alasan dari anak baru tersebut sih karena tidak terbiasa menggunakan bahasa daerah(dalam kasus ini basa Sunda). Sebenarnya secara eksplisit saya tidak memaksa untuk menggunakan bahasa daerah tapi lebih menekankan untuk bisa memposisikan kapan menggunakan tipe bahasa/kata ganti orang tertentu dalam lingkup tertentu.
Intinya kita harus bisa memposisikan diri secara bijak dalam melakukan penggunaan bahasa/kata ganti orang. Jangan asal main tabrak saja pada kondisi dan lingkungan tertentu.
Subscribe to:
Posts (Atom)















